Bambang Widjojanto Bangun 'Tim Sepakbola' di KPK

Bambang Widjojanto Bangun 'Tim Sepakbola' di KPK

- detikNews
Selasa, 06 Des 2011 15:15 WIB
Bambang Widjojanto Bangun Tim Sepakbola di KPK
Jakarta - Pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah selayaknya bekerja seperti para pemain sepakbola. Masing-masing punya peran. Karena bekerja dalam sebuah tim, maka pemain yang satu dan yang lain harus berkoordinasi dalam membongkar kasus korupsi besar di Indonesia.

"Bagi saya ini kan tim sepakbola. Tim sepakbola kan harus bekerja tim. Kalau sekarang ada anggota tim yang menyatakan akan memenangkan sesuatu kan nggak ada yang salah. Nanti itu akan diskusikan dalam coaching clinic bagaimana cara memenangkan itu. Jadi tidak usah terlalu histeris-lah," tutur Bambang saat ditanya apakah dirinya yakin mampu menjawab harapan publik.

Apalagi Ketua KPK Abraham Samad melempar impian tinggi terkait kinerja pimpinan baru KPK. Hal ini disampaikan Bambang kepada wartawan, usai rapat paripurna di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (6/12/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia berharap masyarakat dan juga anggota DPR optimistis dengan kinerja pimpinan baru KPK. Dia pun meminta kesempatan untuk membuktikan kepemimpinan dan sepak terjang para pimpinan KPK dalam memberantas korupsi.

"Yang penting Dewan kan sudah memberikan mandat dan amanah, mudah-mudahan kita bisa menjalankan itu. Siapa yang dipilih itu kan Dewan punya kebijakan dan kearifan. Yang penting bagi saya, saya bisa menunjukkan bahwa saya tepat untuk dipilih," tuturnya.

Ia juga yakin DPR tak asal menunjuk ketua KPK. Meski kemudian ada unsur kecewa karena seribu janji Abraham Samad yang tak bisa diwujudkan semua.

"Pasti DPR memiliki pertimbangan dalam memilih Pak Abraham, dan pertimbangan itu harus dihormati. Sekarang bagi saya lebih baik, bagaimana dengan mandat yang diberikan ini saya bisa menunjukkan kemanfaatan," kata Bambang.

Bambang ingin lebih tenang dalam bekerja. Dia berharap bisa bekerja di KPK tanpa mengubah gaya hidupnya. "Pengawalan untuk menjaga keamanan saya, mungkin perlu dipertimbangkan. Kalau menurut saya aman-aman saja, ya mungkin nggak perlu (pengawalan). Naik kereta penting dong. Bos siapa lagi yang mau naik kereta kalau nggak kita-kita ini," tutupnya.

(vit/nwk)


Berita Terkait