"Supaya kalau ada masalah biar ada waktu untuk menyelesaikannya," kata Kasektor Bir Ali dan Penimbangan Bagasi ini, Sabtu (3/12/2011) malam.
Masalah? Ya, menurut pengalaman Sofian selama menimbang sejak pertengahan November lalu, kloter UPG sering bermasalah. "Bermasalah seperti overload, banyak tempelan di kiri kanan kopor alias 'hamil di luar kandungan', dan ada air zamzam. Mereka beralasan itu bukan tempelan," tutur Sofian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekadar diketahui, embarkasi Makassar terdiri dari jamaah Sulsel dan sejumlah provinsi di Indonesia Timur, berjumlah 42 kloter. Sementara, pihak maskapai angkutan haji hanya akan mengangkat kopor jamaah yang berlogo maskapai saja.
Menurut Sofian, tidak hanya pada tahun ini saja kloter UPG bermasalah. Tahun sebelumnya juga demikian. Bila diimbau untuk mematuhi aturan -- yaitu berat koper maksimal 32 kg, tidak ada zamzam dan tak ada tempelan -- ada yang bersedia mereken, tapi ada juga yang tidak.
Sofian ingat saat dia mengimbau jamaah kloter UPG 16 pekan lalu. Seorang jamaah menjawab, "Ah itu teori saja." Hasilnya, sebanyak 120 koper kloter tersebut tertinggal di Jeddah karena dianggap bermasalah oleh maskapai.
Pada hari Sabtu 3 Desember, Sofian menemukan masalah pada kloter 38 UPG. Sebanyak 63 kopor jamaah kelebihan beban. Tapi jamaah tak bersedia membongkar. Akibatnya, Almazroi Cargo yang bertugas menimbang dan mengangkut kopor ke gudang atau bandara, meninggalkan koper-koper itu di hotel. Sofian sampai perlu berkonsultasi dengan Kadaker Madinah, Akhmad Jauhari, untuk mengatasi masalah itu.
Penimbangan pada kopor kloter UPG 33 juga bermasalah. Rata-rata berat koper di atas 35 kg. Sofian sebagai pengawas dan Almazroi Cargo pun meninggalkan kloter itu. "Kami bilang kepada ketua kloter agar jamaahnya membongkar kopernya. Kami baru ke situ lagi kalau koper sudah dibongkar," kata Sofian.
Setelah zuhur, Sofian dkk baru ke hotel lagi setelah mendapat informasi dari ketua kloter bahwa kopor telah dikurangi isinya. Sebanyak 4 jamaah enggan membongkar kopernya sehingga tidak diturunkan oleh kuli Almazroi Cargo dari kamar jamaah. Mau tak mau 4 jamaah itu akhirnya membongkar ulang kopernya.
Kopor kloter UPG 22 juga bermasalah. Hanya 25 persen koper yang sesuai ketentuan, sisanya berat lebih 35 kg dan 'hamil'.
Penimbangan pada UPG 30 juga bermasalah, sehingga proses penimbangan dari pagi hingga pukul 12 malam. Penimbangan UPG 17 juga dari pagi hingga pukul 11 malam.
"Setiap ada penimbangan embarkasi UPG, saya selalu mengawasi. Biasanya pagi dimulai, malam baru selesai," kata Sofian.
Sofian pernah bertanya mengapa barang kloter UPG selalu banyak. Jamaah menjawab bahwa mereka memang suka belanja.
Ketika ditanya, apa barang yang mereka beli tidak ada di Indonesia, mereka jawab, ada. Tapi mereka merasa belanja di Tanah Suci lebih barokah. "Kalau alasannya barokah, kami tentunya sulit melarang," kata Sofian.
Sektor Bir Ali dan Penimbangan Barang sebetulnya ada 19 personel. Tapi sekarang tersisa 9 personel, karena 10 lainnya ditarik ke Jeddah. Penimbangan di Madinah sehari bisa 8 hingga 10 kloter.
Penimbangan dilakukan pada H-5 pemulangan bagi jamaah yang lewat Bandara KAIA Jeddah dan H-2 pada jamaah yang lewat Bandara AMAA Madinah.
Hari Minggu 4 Desember, kloter 40, 41 dan 42 dari embarkasi Makassar melakukan penimbangan. Dan Sofian akan stand by di 3 kloter tersebut sejak pagi.
(nrl/vit)











































