M Nuh, nama pria itu, sudah sembilan hari sejak kejadian, menunggu kedua putranya, Udinsyah (28) dan Hendra (20), kakak beradik yang ikut lenyap saat Jembatan Kutai Kartanegara rubuh.
Nyaris tidak ada banyak kata yang diucapkan pria yang tinggal di Loa Janan, Kutai Kartanegara, itu. Kesedihan, kekecewaan dan harapan di tengah harapan jenazah sang anak, bisa segera dikuburkan dan dimakamkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nuh bercerita, pertemuannya bersama Udinsyah dan Hendra, Rabu (23/11/2011) lalu, adalah pertemuannya terakhir kali dengan keduanya. Saat itu, Udin dan Hendra, mengatakan akan bekerja memperbaiki Jembatan Kukar.
"Tidak, tidak ada firasat apa-apa saat itu. Dia cuma bilang kerja di perbaikan jembatan, terhitung sejak Sabtu (26/11/2011). Jadi hari Sabtu saat kejadian, pertama kali anak saya bekerja di situ," ucap Nuh.
Meski waktu pencarian korban hilang telah memasuki hari kesembilan, tidak menyurutkan harapan Nuh untuk menanti jenazah anaknya itu. Tidak banyak yang diutarakannya terkait upaya tim SAR yang bertugas melakukan pencarian dan evakuasi.
"Percuma kalu kita bicara, mengomentari tim SAR. Kita tunggu saja kerja mereka. Kalau dibilang lambat, ya lambat. Pokoknya kita tunggu saja kerja mereka," tutur dia.
Selama sembilan hari pula, sambungnya, tidak ada upaya tim SAR maupun yang berkompeten memberikan penjelasan yang menenangkan hati keluarga korban hilang akibat ambruknya jembatan sepanjang 710 meter itu.
"Tidak, tidak ada ditemui siapa pun untuk menjelaskan terkait upaya-upaya pencarian. Biar saja, yang penting semua korban hilang bisa ditemukan. Sampai ketemu," harap Nuh.
(nwk/nvt)










































