Tim Mega Curang, Tim Wiranto Tolak Teken Rekap Suara
Senin, 19 Jul 2004 15:21 WIB
Surabaya - Tim kampaye capres Wiranto-Salahuddin tingkat Provinsi Jawa Timur, menolak menandatangani hasil penghitungan suara secara manual yang dilakukan KPU Jatim di kantor KPU Jatim Jl. Tanggulangin Surabaya, Senin (19/7/2004)."Kita menolak menandatangani hasil penghitungan suara karena kita mengindikasikan banyak kecurangan yang dilakukan oleh tim sukses capres lain," kata Wakil Sekretaris Tim Kampanye Wiranto-Salahuddin, Hidayat, kepada wartawan.Dijelaskannya, kecurangan-kecurangan yang dilakukan oleh salah satu tim sukses capres itu dilakukan di PT Perkebunan Negara (PTPN) XII yang tersebar di 37 unit usaha di Jawa Timur meliputi 900 TPS dan 170 ribu pemilih.Dengan menggunakan fasilitas negara karena melalui lima direksi dan administratur PTPN XII, mereka meminta agar seluruh karyawan agar memilih pasangan capres Mega-Hasyim. "Apabila tidak memilih pasangan capres tersebut, akan dikenakan sanksi dari perusahaan," jelas Hidayat selesai mengikuti acara penghitungan suara.Selain di PTPN XII, pelanggaran yang dilakukan tim kampanye Capres Mega-Hasyim juga terjadi di Bangkalan, Madura. "Melalui KPPS dan penjabat desa (Kleibun), mereka mengintimidasi masyarakat agar memilih pasangan Capres Mega-Hasyim," jelas Hidayat.Untuk itu Tim Kampanye Wiranto di depan forum meminta kepada KPU Jatim agar dilakukan pilpres ulang di kedua daerah tersebut,Sementara itu, hasil rekapitulasi suara secara manual yang dilakukan KPU Jatim siang ini, pasangan capres SBY-JK menempati posisi teratas dengan mendapatkan total suara sebanyak 7.458.376.Disusul pasangan Mega-Hasyim dengan perolehan suara sebanyak 5.896.211, Wiranto-Salahuddin 5.076.422 suara, Amien-Siswono 1.902.251 suara dan menempati urutan terakhir pasangan Capres Hamzah-Agum, 599.802 suara.Sedangkan angka golput di Jawa Timur pada pilpres putaran I menurut anggota KPU Jatim Arif Budiman cukup tinggi, mencapai 5.928.888."Hal ini dimungkinkan masyarakat sekarang ini sudah mempunyai kesadaran berpolitik cukup tinggi,sehingga mereka bisa menentukan pilihan mereka yang terbaik,"j elas Arif Budiman.
(nrl/)











































