"NU tidak dapat dipisahkan dari PDI Perjuangan. Apabila ada upaya-upaya memisahkan keduanya, itu namanya ahistoris. Dalam sejarahnya, tokoh-tokoh NU bersahabat karib dengan tokoh-tokoh nasionalis, misalnya KH Wahid Hasyim bersahabat dengan Bung Karno, dan Gus Dur dengan Megawati Soekarnoputri," kata Said seperti dalam rilis yang diterima detikcom.
Hal itu disampaikan Said saat menerima audiensi organisasi sayap PDIP, Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia, di kantor PBNU, Jl Kramat Raya 164 Jakarta, Jumat sore (2/12/2012).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
โAsalkan mengedepankan program berpihak pada kaum lemah, maka dengan
sendirinya Baitul Muslimin Indonesia akan laku dan mendapat tempat
tersendiri di tengah masyarakat,โ ujar pria yang juga menjabat sebagai anggota Dewan Pembina Baitul Muslimin Indonesia ini.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Baitul Muslimin Indonesia, Nurmansyah E
Tanjung mengatakan audiensi dengan PBNU bagaikan kunjungan seorang anak kepada orang tuanya. Lantaran kelahiran Baitul Muslimin Indonesia pada 29 Maret 2007 lalu didukung oleh NU dan Muhammadiyah.
"Ada empat tujuan audiensi Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia dengan PBNU. Pertama, silaturahmi dan Perkenalan Pengurus Baru PP Baitul Muslimin
Indonesia Masa Bakti 2010-2015," tutur Nurmansyah.
Sementara tujuan kedua adalah menyinergikan program. Menurut Nurmansyah hal itu dilakukan untuk merumuskan program-program yang bisa menyentuh kehidupan umat. Ketiga, memperkokoh pilar kebangsaan dengan menyegarkan kembali wawasan dan pemahaman keagamaan, sehingga tidak akan terjadi lagi benturan-benturan ideologis dan atau kepentingan semata yang hanya memanfaatkan legitimasi keagamaan.
"Keempat, menerima masukan dan saran pembinaan dari PBNU sangat diharapkan agar organisasi ini bisa berjalan dengan baik dan bermanfaat untuk bangsa," tutupnya.
(feb/mpr)










































