"Intinya kedatangan kita hari ini adalah agar pihak yayasan mengeluarkan permohonan maaf ke media massa atas perlakuan diskriminatif mereka," ujar Fajar usai pertemuan dengan pihak Yayasan Akademi dan Sekretariat Don Bosco, Pulomas, Jakarta Timur, Jumat (2/12/2011).
Menurut Fajar, pihaknya memberi waktu 2x24 jam sejak hari ini kepada pihak Don Bosco Kelapa Gading atas ultimatum itu. Jika ultimatum itu tidak diindahkan, pihaknya terpaksa akan menempuh jalur hukum.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fajar menambahkan, dalam pertemuan dengan pihak Don Bosco, dirinya ditemui Kepala Bidang Pendidikan Don Bosco Paul Yoso Pandoyo, dan dua stafnya. Dalam pertemuan itu ada perbedaan pendapat mengenai diskriminasi kasus itu.
Fajar mengungkapkan, dirinya memang sejak awal sukarela memberitahu riwayat penyakitnya kepada sekolah. Dia juga sudah tahu risiko yang akan diterimanya.
"Saya paham risikonya, tapi biarkan itu berkembang dan saya akan lawan," serunya.
Atas kasus ini, Fajar mengaku belum memberitahu anaknya. Namun dia memetik hikmah atas kejadian ini.
"Buat saya yang terpenting ini bukan sekadar saya dan Immi. Tapi saya hanya ingin agar ini menjadi pelajaran buat sekolah-sekolah yang lain apakah (keluarga) anak yang menderita HIV itu lantas tidak sekolah," ucap Fajar.
(nik/vit)











































