"Sebagai seseorang yang pernah aktif peduli soal HIV/AIDS, melekat dalam ingatakan saya bahwa tidak boleh ada tindakan diskiminatif terhadap ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) karena mereka memiliki hak yang sama sebagai warga negara. Bagi saya, sikap para pengajar di SD Don Bosco Kelapa Gading itu serta orang tua muridnya adalah hal yang mengecewakan, hari gini masih ada yang bersikap diskriminatif?! Artinya orang yang terdidikpun masih berperilaku tidak manusiawi, apalagi untuk sekolah yang memiliki nama tenar seperti Don Bosco," tulis Nurul Arifin, mantan akitivis pedulu HIV-AIDS yang juga anggota DPR Komisi II kepada detikcom, Jumat (2/12/2011).
Dukungan lain juga mengalir dari Wakil Ketua DPR, Priyo Budi Santoso. Saat dihubungi detikcom, Priyo menyampaikan apa yang terjadi dalam kasus ini jelas-jelas merupakan diskriminasi. Hal seperti ini tidak seharusnya terjadi di masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, dukungan di twitter dan media lain pun terus mengalir untuk melawan diskiriminasi HIV, agar nantinya tidak ada Immi-immi lain dengan nasib serupa.
"Harus kita kawal terus permasalahan ini, agar tidak ada korban Immi lain," tulis Koalisi AIDS lewat akun twitternya @KoalisiAIDS.
Fajar Jasmin Sugandhi, ayah Immi yang terinfeksi HIV positif pun menuliskan lewat akun twitternya @fajarjasmin, bahwa ia mendapatkan banyak dukungan dari berbagai pihak, termasuk media, DPR, Ombudsman Indonesia, KPA, 2 agensi PBB dan beberapa pengacara.
"I count media, DPR, Ombudsman Indonesia, KPA, and 2 UN agencies, and various lawyers as my supporters. Still receiving more. Thank you all," tulis Fajar.
Sementara ibunda Immi, Leonnie F Merinsca, lewat akun twitternya menyatakan bahwa hari ini, Jumat (2/12/2011), ia dan keluarga bertemu dengan Kepala Sekolah SD Don Bosco 1 Kelapa Gading.
(mer/nik)











































