Pelajar RI Memilih Bertahan di Yaman, Pemerintah Tak Bisa Paksa

Pelajar RI Memilih Bertahan di Yaman, Pemerintah Tak Bisa Paksa

- detikNews
Jumat, 02 Des 2011 09:30 WIB
Jakarta - Masih ada sekitar 100 pelajar asal Indonesia yang bertahan di Perguruan Dar al-Hadits, Yaman. Kendati perguruan itu dikepung kelompok Syiah, namun para pelajar tersebut memilih bertahan di lokasi. Pemerintah RI tidak bisa memaksa para siswa untuk meninggalkan lokasi.

"KBRI sudah melakukan komunikasi langsung dengan mereka,diimbau dengan kuat untuk keluar dari lokasi, cari tempat aman. Sudah dilakukan, tapi tentunya pada akhirnya kembali pada para santri," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Michael Tene, Jumat (2/12/2011).

KBRI di Yaman sudah memberikan imbauan dengan kuat dan menyatakan kesiapannya untuk membantu memindahkan para pelajar itu. Sementara yang akan dilakukan adalah memindahkan mereka ke tempat yang lebih aman, seperti di lingkungan KBRI.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk pulang ke Tanah Air adalah langkah selanjutnya. Karena mungkin masih ada yang punya urusan di sana sehingga kami imbau untuk pindah ke lokasi yang aman dulu," sambung Michael.

Situasi di Perguruan Dar al-Hadits masih belum berbeda jauh. Kelompok Syiah masih mengepung lokasi itu sebagaimana hari-hari sebelumnya sebulan terakhir ini. Keadaan di Yaman belum normal.

Sebelumnya diberitakan ada dua pelajar Indonesia yang tewas terkena roket. Menurut assalafy-alhaq.blogspot.com, mereka bernama Muhammad Shalih Al Indunisi (30) dan Jumeiri Abdullah Al Indunisi (24).

Kantor berita Xinhua sebelumnya memberitakan ada serangan kelompok Syiah ke sekolah Dar al-Hadits yang dikelola oleh kaum Sunni. Sedikitnya 24 orang tewas saat terjadi baku tembak antar keduanya. Dua di antara korban diduga pelajar Indonesia.

"Tembakan yang menargetkan Sunni-pengelola sekolah Islam dan wilayah sekitarnya di Kota Damaj bagian utara Houthi yang dikuasai Saada, menewaskan 24 orang, termasuk 3 pelajar asing, 2 orang warga negara Indonesia dan 1 orang warga negara Amerika," kata sumber yang tidak ingin disebutkan namanya.

Dar al-Hadits adalah sekolah yang muridnya banyak berasal Yaman dan banyak negara lainnya. Oleh pemberontak Syiah, sekolah ini dipandang sebagai ancaman lantaran mengisi wilayah utara.

Seorang guru sekolah Dar al-Hadits mengatakan, pihak pemberontak yang berasal dari suku Huthi meminta sekolah ditutup selama 2 minggu dan memblok pengiriman makanan untuk 10.000 orang.

Suku Huthi diduga telah memperkuat basisnya di Provinsi Yaman Utara dalam beberapa bulan terakhir menyusul maraknya pemberontakan rezim Anti-pemerintah.

(vit/ndr)


Berita Terkait