"Dikarenakan dampak negatif dari AFTA. AFTA telah dimanfaatkan oleh produsen asing di luar ASEAN daripada produsen yang berasal dari negara-negara ASEAN," ujar Guru Besar Hukum Perdagangan Internasional FHUI, Hikmahanto Juwana dalam rilis yang diterima detikcom, Jumat (2/12/2011).
Menurut Hikmahanto, keberadaan AFTA selalu diintensifkan oleh negara-negara ASEAN agar terjadi peningkatan perdagangan antar negara ASEAN (intra ASEAN trade). Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
"Nyatanya justru perusahaan asal negara non-ASEAN yang memanfaatkan, termasuk produsen mobil. Dan ini tidak dirasakan sebagai suatu yang salah bagi negara ASEAN yang menjadi tujuan investasi seperti Malaysia, Thailand dan Singapura," tuturnya.
Hikmahanto menilai, perusahaan yang berasal dari negara di luar ASEAN justru berusaha mengambil keuntungan dari bea masuk ke Indonesia yang murah. Hal ini lebih menguntungkan jika dibandingkan membuka pabrik di Indonesia yang penuh masalah, seperti ketidakpastian hukum, demo buruh, berbagai pungutan baik yang resmi maupun liar.
Salah satu solusinya, yakni perlu dilakukan pembicaraan khusus antar negara-negara ASEAN untuk membahas hal ini. Hal ini harus dilakukan segera, agar pangsa pasar Indonesia tidak dieksploitasi oleh negara lain.
"Agar ASEAN tetap kokoh, permasalahan seperti ini perlu dibicarakan oleh pemerintah Indonesia dengan Malaysia, bahkan negara-negara ASEAN lainnya seperti Thailand dan Singapura yang menjadikan diri mereka basis bagi produsen perusahaan asing untuk pasar Indonesia. Agar pasar Indonesia tidak terus menerus dieksploitasi oleh negara ASEAN lainnya," tandas Hikmahanto.
(nvc/van)











































