Menurut pengamat perkotaan dan transportasi Universitas Trisaksi, Yayat Supriyatna, tampaknya hal itu sangat sulit.
"Karena dulu pernah ada taksi wanita, dimana sopirnya wanita dan penumpangnya juga hanya wanita. Tapi nggak berjalan dan sekarang berhenti," tutur Yayat saat berbincang dengan detikcom, Kamis (1/12/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kan nyatanya itu tidak membantu, gimana bisa efektif kalau jumlahnya terbatas sementara peminatnya banyak. Jadi dalam satu dua hal menarik, tapi karena dari segi sarana dan prasarana tidak seimbang dengan jumlah pengguna ya sama saja," kritiknya.
Sebelumnya, wacana transportasi khusus wanita baru-baru ini juga muncul menyikapi maraknya pelecahan seksual di bus rapid transit TransJakarta. Namun, agaknya itu sulit terealisasi karena jumlah armada yang tidak mendukung.
Oleh karena itu lanjut Yayat sebenarnya baik taksi atau bus TransJ khusus wanita butuh banyak pertimbangan untuk memberlakukannya. Yang terpenting dari semua itu lanjutnya adalah penempatan petugas keamanan di mana-mana.
"Itu saya rasa cukup aman. Seperti di bus TransJ harusnya petugas lebih diperbanyak sehingga kriminalitas tidak terjadi dan setiap yang kedapatan melakukan pelanggaran harusnya ditindak tegas," tegas Yayat.
(lia/rdf)










































