Hal itu disampaikan State Secretary Kemlu Jerman Emily Haber dalam sambutan pembukaan Lokakarya Tingkat Tinggi ASEAN Regional Forum (ARF) seperti disampaikan Konselor Pensosbud KBRI Berlin Ayodhia G.L. Kalake kepada detikcom, Selasa (29/11/2011).
ARF mencakup 10 anggota ASEAN (Brunei, Burma, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Philippina, Singapura, Thailand dan Vietnam), 10 negara mitra dialog ASEAN (AS, Australia, Cina, India, Jepang, Kanada, Korea Selatan, Selandia Baru, Russia dan UE), ditambah Papua Nugini selaku pengamat, Korea Utara, Mongolia, Pakistan dan Timor Timur.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tantangan baru tersebut misalnya terorisme, penyebaran senjata pemusnah massal, serta konflik regional, ujar Haber.
Dalam sudut pandang Eropa, imbuh Haber, kawasan Asia Pasifik saat ini mengalami perkembangan signifikan, diantaranya perkembangan arsitektur kawasan yang semakin kuat, bangkitnya kekuatan Cina, dan peranan Amerika Serikat yang lebih besar.
Sebelumnya Haber menjelaskan bahwa dalam kerangka ARF pemerintah Jerman menaruh perhatian penting terhadap upaya membangun kepercayaan dan diplomasi preventif.
"Sebab kedua hal itu juga telah menjadi bagian dari sejarah Jerman, yang menjadi faktor pendorong runtuhnya tembok Berlin, penyatuan kembali Jerman, dan proses penyatuan masyarakat Eropa di bawah payung Uni Eropa," demikian Haber.
Prevensi Konflik
Sementara itu Direktur Jenderal Kerjasama ASEAN Djauhari Oratmangun secara khusus menekankan bahwa Indonesia senantiasa berperan dalam upaya pencegahan konflik melalui upaya membangun kepercayaan.
Implementasinya antara lain dengan membantu mencari solusi konflik perbatasan dan konflik Laut China Selatan," ujar Dirjen, yang juga menjadi ketua delegasi Indonesia dalam ARF ini.
Selain itu, lanjut Dirjen, Indonesia juga mendorong kemajuan dalam negosiasi Six Party Talks untuk mengatasi masalah Semenanjung Korea, mendorong terciptanya kawasan bebas nuklir di ASEAN, dan memperkuat ASEAN Maritime Forum.
"Berbagai upaya tersebut menunjukkan komitmen Indonesia untuk terus memperkuat dua pilar utama ARF yaitu pembangunan kepercayaan dan diplomasi preventif, agar dapat mencapai pilar ketiga yaitu resolusi konflik," tandas Dirjen.
Lebih Kohesif
Pada kesempatan sama, Deputi II Bidang Politik Luar Negeri Kementerian Politik, Hukum dan Keamanan RI Dubes Nadjib Riphat Kesoema menggarisbawahi peran penting Indonesia selama menjadi Ketua ASEAN 2011.
Peran itu antara lainkontribusi Indonesia dalam memperkuat pilar pembangunan kepercayaan dan diplomasi preventif di ARF, mendorong transformasi ASEAN menjadi komunitas yang lebih kohesif dan kolaboratif, serta membangun tatanan regional yang efektif.
Bahkan dalam KTT ASEAN di Bali baru-baru ini Indonesia berhasil menggerakkan negara-negara anggotaASEAN untuk menyepakati pembentukan ASEAN Institute for Peace and Reconciliation/AIPR (Lembaga Perdamaian dan Rekonsiliasi ASEAN, red).
"Diharapkan AIPR dapat turut menciptakan kawasan Asia Tenggara yang aman dan stabil," papar Dubes.
ARF High-Level Workshop on Confidence Building Measures and Preventive Diplomacy in Asia and Europe (Lokakarya Tingkat Tinggi ARF mengenai Tindakan Membangun Kepercayaan dan Diplomasi Preventif di Asia dan Eropa, red) berlangsung di Kemlu Jerman, Berlin, selama dua hari (28-29/11/2011).
Lokakarya ARF ini dibuka secara resmi oleh Dubes Nadjib bersama State Secretary Kemlu Jerman Emily Haber. Indonesia dan Jerman dalam kegiatan ini bertindak sebagai tuan rumah bersama.
Dalam lokakarya ini, peserta saling mempelajari pengalaman menangani konflik yang terjadi di beberapa kawasan, seperti di Asia Timur, Asia Tengah, dan Eropa Timur.
Para peserta berasal dari pejabat pemerintah negara-negara ARF, kalangan militer, akademisi, perwakilan dari OSCE(Organization for Security and Cooperation in Europe, red), dan kalangan diplomatik. Hadir pula Wakil Tetap RI untuk ASEAN Dubes Ngurah Swajaya.
Berdasarkan kasus-kasus yang muncul di kawasan dapat dikembangkan konsep lebih baik dalam menguatkan peranan institusi regional, dalam hal ini ARF dan OSCE untuk mengatasi krisis.
Para peserta juga menekankan pentingnya transparansi dan komunikasi sebagai faktor yang turut memperkuat implementasi pembangunan kepercayaan.
(es/es)










































