"Sebenarnya perusahaan itu bukan rekan atau teman saya. Saya cuma ingat pernah membeli absensi itu dari salah satu perusahaan. Saya cari tahu lagi alamatnya dan saya temukan dengan Kabiro Harbangin. Saya minta dia untuk mendengarkan, bukan untuk dimenangkan tapi untuk dijadikan standar acuan," tutur Marzuki.
Hal itu dikatakan Marzuki kepada wartawan di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (30/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah saya temukan saya pun meminta mereka untuk tidak lagi membawa-bawa nama saya. Kalian berhubungan langsung saja sesuai prosedur. Jadi jangan diplintir atau dibalik-balik seolah ini perusahaan atau kenalan Marzuki Alie," ujarnya.
"Saya tahu persis perusahaan ini produknya bagus dan mereka ahli. Mereka pun sudah mengeskpor produk mereka," tuturnya.
Marzuki mengaku tahu harga absen finger print untuk DPR tak sampai Rp 4 miliar dari perusahaan langganannya itu. Ia menegaskan tak mencoba ambil keuntungan dalam misi peningkatan disiplin Dewan tersebut.
"Begitu tahu bahwa pengadaan yang direncanakan mahal, saya berkewajiban untuk mengendalikan agar tidak mahal. Kalau saya biarkan bisa ludes duit negara," tegasnya.
(van/lrn)











































