Saat itu jam menunjukkan angka 1 dinihari, Selasa (29/11/2011). Ini adalah hujan pertama di tahun 2011 di Madinah, kota suci berjuluk Kota Bercahaya (Al Munawwarah) atau Kota Nabi. Jamaah basah dan kedinginan, demikian juga para petugas haji Indonesia yang ditempatkan di Sektor Airport. Mereka berlarian mengawal jamaah sembari berhujan-hujan. Weather.com mencatat suhu kala itu mencapai titik terendah di Madinah, 10 derajat Celcius. Hujan baru berakhir menjelang subuh.
"Pemulangan kloter pertama penuh berkah. Hujan deras sekali, lama pula. Tak cuma sejam, tapi tiga jam," kata petugas haji yang menjabat Kepala Sektor Airport, Abdul Syukur, di sela-sela mengawasi pemulangan kloter SUB 54 di Bandara AMAA, Selasa (29/11/2011) siang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena pengalaman cuaca dingin yang ditimpa hujan deras tersebut, Abdul Syukur menyarankan agar jamaah yang hendak pulang lewat Bandara Madinah mengenakan pakaian berlapis. "Jangan hanya baju seragam batik saja, tapi juga ditambah jaket," sarannya.
Saran ini dikeluarkan karena jamaah akan lama berdiri berjam-jam di daerah open air sembari menunggu antrean pemeriksaan tas tenteng. Pemeriksaan dilakukan oleh petugas maskapai untuk mengecek apakah bawaan jamaah terlalu banyak atau membawa air zamzam.
Abdul Syukur sendiri mengenakan baju lapis empat. Dua lapis di antaranya adalah sweater dan jaket tebal warna coklat muda. Anggota timnya pun setali tiga uang. Mereka memakai pakaian rangkap hingga 6 lapis, dengan lapisan terakhir jaket penahan dingin. Pelindung kepala/wajah plus kuping juga dipakai. Ada juga yang memakai kaos tangan.
"Lihat kami, seperti orang Eskimo," kata Abdul Syukur sembari tertawa. "Semua mengkerut," imbuhnya.
Saat itu jam menunjukkan pukul 10.00 WAS. Hawa telah menghangat di angka 15 derajat Celcius. Matahari bersinar terang. Tapi angin berhembus menambah dingin udara. Sinar sang surya tak mampu mengusir awan hitam yang bergelayut di ujung gunung nun di sana.
Tak cuma jamaah dan petugas Sektor Airport yang berbasah-basah pada Selasa dinihari. Posko Sektor Airport yang terbuat dari besi kontainer, satu-satunya posko dari negara asing yang boleh berdiri di lingkungan bandara, juga "kebanjiran". Posko sederhana itu tempias kena guyuran hujan. Karpet dan semua isinya basah.
Saat hujan reda, ruang posko dipel dan barang-barang yang basah dikeluarkan untuk dijemur. Karpet basah kemudian dikirim ke kantor Daker Madinah, sebagai gantinya petugas membawa 4 kasur ke posko.
Sebanyak 141 kloter terdiri dari 64 ribuan jamaah akan pulang lewat Bandara AMAA Madinah. Hari Selasa merupakan hari perdana pemulangan yang melibatkan 10 kloter. Petugas Sektor Airport kebagian tugas mengawasi pemulangan jamaah. Mulai mengawasi jamaah turun dari bus, mengarahkan ke pintu terminal, mengawasi barang tercecer, dan banyak lagi.
Badan Meteorologi Arab Saudi mengeluarkan peringatan cuaca buruk yaitu hujan deras dan badai mulai Senin (28/11) malam pada empat wilayah yaitu Provinsi Timur, Riyadh, Qossim, dan Hail. Akibatnya, sekolah di empat wilayah itu diliburkan sehari pada hari Selasa.
Sementara itu, jamaah haji Indonesia saat ini terkosentrasi di Madinah. Sedikit lainnya berada di Makkah dan Jeddah, untuk menanti pemulangan.
Masyarakat Arab Saudi menganggap hujan sebagai berkah. Namun belakangan, mereka mengkhawatirkan hujan deras setelah terjadi banjir bandang di Jeddah pada November-Desember 2009, musibah terburuk sepanjang 50 tahun. Hujan deras kala itu juga berdampak hingga ke Makkah, bertepatan dengan puncak haji. Banjir juga terjadi pada 2010 dan membawa korban jiwa. Pada 26 Januari 2011, banjir di Jeddah -- 330 km dari Madinah -- menewaskan belasan orang.
(nrl/mad)











































