Air mata itu muncul karena tak tega melihat jamaah haji Indonesia yang mengaduk-aduk tas tentengannya, mengeluarkan separo isinya dan meninggalkan begitu saja. Petugas haji menyebut barang itu sebagai barcer atau barang tercecer.
Barcer selalu ada sejak kloter pertama dari JKS 47 berangkat dari Bandara AMAA Madinah pukul 03.25 WAS, Selasa (29/11/2011). Pemandangan lebih banyak terjadi di siang hari pada kloter SUB 54 (embarkasi Surabaya). Barcer itu berupa tas koper kecil beserta isinya, tas-tas tenteng, barang-barang yang dibungkus di karung, jeriken-jeriken air zamzam dan masih banyak lagi. Semua barcer itu adalah oleh-oleh untuk anak-cucu, sanak-kerabat, dan handai-taulan.
Jamaah SUB 54 tiba bergelombang ke Bandara AMAA sekitar pukul 08.30 WAS. Mereka langsung berjajar memanjang memasuki terminal 6. Mereka berbaris untuk menunggu antrean pemeriksaan tas tenteng. Sedangkan tas koper mereka telah diangkut 3 hari sebelumnya.
Tas tenteng yang diperkenankan hanyalah tas yang berlogo maskapai penerbangan yang mengangkut mereka, yaitu Saudi Arabian Airlines. Berat yang diperkenankan 7 kg.
Meski aturan ini telah dipromosikan sejak mereka tiba di Madinah 9 hari lalu, tapi tetap saja jamaah melanggarnya. Mereka membawa belanjaan melebihi ketentuan. Yang terbanyak, tetap nekat membawa air zamzam.
Air zamzam hasil mengambil dari Masjidil Haram di Makkah maupun Masjid Nabawi di Madinah itu disimpan di aneka wadah. Ada yang di botol-botol kecil air mineral, botol besar, jeriken, hingga termos warna emas yang merupakan salah satu suvenir khas dari Tanah Suci. Ada yang menentengnya terang-terangan, namun banyak juga yang membungkusnya serapi mungkin di dalam tas tentengnya.
Tapi serapi apa pun, air zamzam itu harus ditinggalkan. Petugas maskapai Saudi Arabian Airlines yang berjaga di pintu masuk terminal, memeriksa satu per satu hand bag jamaah. Air zamzam yang tersimpan di tas tenteng terpaksa dikeluarkan. Yang disimpan di termos emas, harus dituang ke ember.
Selain air zamzam, barang-barang yang di luar kuota juga harus ditinggal. Seorang jamaah meninggalkan satu lusin kamera mainan yang diperuntukkan anak yatim di kampungnya. Ada yang meninggalkan buah-buahan, coklat, pakaian, dan banyak lagi. Jamaah tidak protes meskipun hatinya teriris harus ber-say good bye pada belanjaannya.
Tak cuma jamaah saja yang bersedih melihat barang-barang yang kemudian berstatus "barcer" itu. Petugas haji yang ngepos di Sektor Bandara yang mengawasi, juga keronto-ronto.
"Saya jadi ingat kampung," kata seorang petugas yang tak bisa berbuat apa-apa, karena memang demikian peraturan penerbangan angkutan haji yang berlaku.
Kepala Sektor Bandara Madinah, Abdul Syukur, menuturkan, dia melarang semua anggotanya untuk menyentuh barcer itu. "Jangan sampai teman-teman membawa barcer itu ke rumah atau pos. Kalau membantu saja tidak apa-apa," kata Syukur yang memakai pakaian berlapis empat untuk menahan udara dingin. Semua barcer itu dibawa petugas Almazroi Cargo -- perusahaan yang bertugas menimbang kopor jamaah di Madinah dan membawanya ke bandara -- ke gudang.
Sementara itu, Ahmad Fauzi dari Saudi Arabian Airlines, menyatakan, sweeping pada bawaan jamah harus dilakukan untuk keselamatan penerbangan. "Larangan bagi jamaah haji adalah tidak boleh membawa air zamzam. Jamaah akan diberi di debarkasi masing-masing. Kalau barang ini semua dibawa, otomatis akan over. Kalau over, pesawat akan delay," jelasnya.
Tak henti-hentinya Fauzi mengingatkan jamaah yang sedang antre di pintu masuk terminal untuk tidak membawa masuk barang-barang terlarang seperti gunting dan pisau, selain air zamzam.
Di dekat antrean jamaah, barcer bergelimpangan. Petugas Almazroi Cargo mengumpulkan dan mengangkutnya dengan mobil khusus menuju gudang.
Setelah disisir di pintu masuk, jamaah memasuki terminal. Mereka melewati x-ray dan pemeriksaan badan. Di terminal ini, jamaah menghadapi pemeriksaan lagi. Petugas berwajah Timur Tengah tak segan mengeluarkan lagi sebagian bawaan jamaah.
Setelah lolos pemeriksaan badan dan bawaan, jamaah akan memasuki ruang Imigrasi. Pemeriksaan di sini bisa 30 menit hingga 2 jam.
Kloter SUB 54 yang berisi 447 jamaah take off pukul 12.50 WAS. Mereka akan terbang sekitar 8 jam menuju Surabaya.
(nrl/nvc)











































