"Seperti ada yang dilindungi, isu beredar jika pelaku memang bukan orang sembarangan," ujar Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane kepada detikcom, Selasa (29/11/2011).
Menurut Neta, berbekal dari keterangan saksi mata dan tiga orang tersangka, seharusnya polisi tidak kesulitan untuk mengidentifikasi pelaku penusukan. Tinggal ada keberanian dari polisi untuk menangkap pelaku.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Neta menilai, Polres Metro Jakarta Selatan sangat lambat menuntaskan kasus Raafi. Jangan sampai kasus yang berlarut-larut ini menciderai rasa keadilan keluarga yang ditinggalkan.
"Polda Metro jaya sebaiknya ambil alih kasus Raafi," saran Neta.
Selain penuntasan kasus penusukannya, polisi juga harus mengusut tuntas pihak-pihak yang berusaha menutupi kejadian ini. Muncul spekulasi jika tempat kejadian sengaja dibersihkan untuk mempersulit proses penyelidikan.
"TKP dibersihkan ini harus diproses, apa itu dilakukan karena ada perintah pihak tertentu. Pelakunya bisa dipidana," tutup Neta.
Raafi tewas setelah tertusuk di perutnya saat menghadiri pesta ulang tahun salah satu temannya di Shy Rooftop, Kemang, Jaksel pada Sabtu 5 November lalu. Sebelum ditusuk, Raafi sempat terlibat keributan dengan para pelaku.
Polisi menyebut Raafi Cs terlibat pertengkaran dengan kelompok Mike Cs. Kabar yang beredar kelompok Mike Cs ini dikait-kaitkan dengan ormas kepemudaan 234 SC. Namun pihak 234 SC sudah tegas membantah terlibat kasus itu.
Dalam kejadian itu, ternyata bukan hanya Raafi yang terluka. Teman Raafi, G yang juga siswa SMA Pangudi Luhur turut terluka akibat terkena pisau pelaku.
Polisi telah menetapkan 3 orang tersangka yang diduga melakukan pengeroyokan terhadap Raafi. Mereka adalah berinisial M, F, dan H.
(did/mok)










































