Din: Bukan Golput, Tapi Memilih Untuk Tidak Memilih

Din: Bukan Golput, Tapi Memilih Untuk Tidak Memilih

- detikNews
Sabtu, 17 Jul 2004 16:05 WIB
Semarang - Dalam dunia politik, penggunaan istilah sangat penting karena bisa mengundang orang berbeda penafsiran. Misalnya, ketika dikatakan menyerukan golput bersama 11 ormas Islam, Wakil Ketua PP Muhamadiyah Din Syamsudin membantah. "Bukan golput, tapi memilih untuk tidak memilih," katanya.Din mengatakan ada perbedaan antara golput dengan memilih untuk tidak memilih. "Golput itu sikap apatisme. Mereka yang golput tidak datang ke TPS. Tapi kami tidak. Kami akan datang ke TPS untuk memberikan suara," katanya kepada wartawan dalam acara Pembukaan BPR Syariah Artha Surya Barokah di kantor bank tersebut, Jl. Singosari Semarang, Sabtu (17/7/2004).Dalam memberikan suara, lanjutnya, bisa saja orang bingung atau kesulitan menentukan pilihan. Akhirnya, tidak jadi memilih. Hal itulah yang menjadi kesimpulan awal dari pertemuannya dengan 11 ormas Islam beberapa waktu lalu. Setiap perwakilan ormas menyatakan sulit untuk menentukan pilihannya."Kesimpulan itu yang kemudian ditafsirkan sebagai seruan golput. Padahal sama sekali tidak. Apalagi kesimpulan itu juga masih dalam proses terus, masih didiskusikan lebih lanjut," tegasnya.Din yang juga Sekretaris MUI Pusat ini menambahkan dalam agama Islam ada salah satu pernyataan pilihlah memilih pemimpin yang lebih rendah bahayanya atau mudhorot-nya. Pernyataan itulah yang akan jadi pegangan dan sampai ssekarang belum ada pernyataan resmi di tingkat organisasi (Muhamadiyah) maupun dari yang lain.Ketika ditanya soal sikap politik PP Muhamadiyah, Din menyatakan masih akan dibahas di rapat pleno. "Rapatnya bisa dilakukan sewaktu-waktu. Kelihatannya menunggu hasil final penghitungan suara 26 Juli mendatang," terangnya.Sesuai dengan jati dirinya sebagai ormas dakwah, lanjutnya, Muhammadiyah cenderung membebaskan warganya memilih salah satu capres yang disukainya. Karena pertaruhannya bukan hanya pada level organisasi atau kelompok, tapi bangsa dan negara."Kalau bisa pilih yang tidak korup, tidak mengabdi pada kepentingan asing, dan yang pasti kadar mudhorot-nya rendah," demikian Din. (nrl/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads