"Polisi telah menganiaya suami saya sama tak sadarkan diri. Padahal suami saya tidak ikut dalam aksi demo. Sore itu dia baru pulang kerja, namun di jalan saat berhenti di lampu merah, malah digebuki polisi," kata Melva Boru Aritonang dalam perbincangan dengan detikcom, Jumat (25/11/2011).
Melva menjelaskan, suaminya menjadi korban kebiadapan Polda Kepi terjadi pada Kamis (24/11/2011) sore hari. Saat itu Hermanto baru pulang kerja sebagai karyawan Modermot di kawasan Batu Ampar Batam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Masih certa Melva, dia mengaku mendapat perlakukan brutal, Hermanto langsung melarikan diri dengan meninggalkan sepeda motornya. Apes bagi Hermanto buruh di bagian elektronik ini, terjatuh. Lantas menjadi bulan-bulanan jajaran polisi Polda Kepri.
"Suami saya dipukuli sampai babak belur, bagian kepala belakangnya sampai koyak. Wajahnya babak belur, kedua telinganya mengeluarkan darah. Jari kelingkingnya juga putus," kata Melva dengan suara lirih.
Setelah itu, suaminya diamankan di kantor polisi. Korban saat itu masih sadarkan diri, meminta untuk diantarkan ke RS Awal Bros. lantas polisi mengantarkannya. Sampai di RS Awal Bros, Hermanto langsung tak sadarkan diri.
"Suami saya malam mini barusan selesai menjalani operasi patah tulang di RS Otorita Batam. Kita pindah ke RS Otorita Batam, karena di RS Awal Bros tidak ada dokter ahli tulangnya," kata Melva.
Hermanto baru saja selesai operasi patah tulang jari kelingkingnya pada pukul 18.40 WIB. Kondisi Hermanto masih belum stabil sejak digebuki polisi. Dia belum sadarkan diri sampai usai operasi.
"Banyak jahitan di bagian kepalanya karena koyak dipukuli polisi. Dan biaya ini kami tanggung sendiri. Padahal suami saya ini tidak ikut demo, tapi kok malah dijadikan korban penganiayaan polisi," sesal Melva.
(cha/anw)










































