Jelang Putaran II, 70% Golkar Jateng ke SBY, 30% ke Mega
Sabtu, 17 Jul 2004 15:19 WIB
Semarang - Sebagai Ketua Umum DPP Partai Golkar, Akbar Tandjung boleh-boleh saja mendekati Mega. Tapi, tak semua jajaran di bawahnya bakal setuju. Buktinya, 70% Golkar Jateng justru menyukai SBY, selebihnya dukung Mega."Selama ini yang menjadi wacana di pusat ada tiga yakni, pilih SBY, Mega, atau jadi oposisi. Tapi kecenderungan di Jateng, suara-suara DPD lebih mengarah ke SBY. Jumlahnya sekitar 70% dan 30%-nya senang Mega," kata Wakil Ketua DPD Partai Golkar Jateng Soejatno Pedro kepada detikcom di kantornya, Jl. Kiai Saleh Semarang, Sabtu (17/7/2004).Untuk menegaskan sikap, katanya, pihaknya akan membahasnya di tingkat provinsi. Pembahasan itu menunggu hasil final penghitungan suara pilpres tingkat provinsi 19 Juli. Hasilnya akan dibawa pada Rapimnas Partai Golkar yang rencananya akan diselenggarakan pada 26 - 28 Juli mendatang."Kita mempunyai mekanisme partai seperti itu. Aspirasi daerah-daerah diserap kemudian dijadikan bahan pertimbangan keputusan DPP. Setelah itu apa pun keputusannya harus dipatuhi oleh semua jajaran di bawahnya," terang Pedro.KoalisiMengenai kelanjutan koalisi dengan PKB, Pedro menyatakan setuju jika koalisi tersebut dipertahankan menuju pilpres putaran II. Pasalnya, selama ini hubungan dan kerja sama antara Golkar dan PKB di Jateng terhitung sangat baik.Dikatakan Pedro, hal itu terbukti dari hasil evaluasi kerja tim kampanye Wiranto. "Golkar dan PKB Jateng bisa dibilang sudah melampaui target nasional. Targetnya dapat 15%, ternyata malah dapat 16%," tandasnya.Hubungan yang tidak baik, kata dia, justru datang dari tim bentukan Wiranto sendiri. "Mereka sering terlambat mengurusi masalah logistik. Akibatnya, kerja-kerja pemenangan Wiranto dapat terganggu. Kalau dengan PKB kami sangat baik," papar pendiri Stasiun Radio Radik Semarang ini.Perlu diketahui dari hasil penghitungan suara di Jateng oleh Tim Kampanye Wiranto per 17 Juli 2004 pukul 10.20 WIB, Wiranto mendapatkan 3,9 juta suara. Target awalnya 5 juta. Meski demikian, jumlah itu sudah memasok 16% suara nasional.
(nrl/)











































