Jumlah penderita HIV/AIDS saat ini di Sulsel sudah lebih dari 4.000 jiwa. Penderita didominasi usia produktif, yakni 13-21 tahun.
"Saat ini Sulsel berada di peringkat 7 nasional dari jumlah penderita HIV/AIDS-nya dan sekarang tidak hanya tersebar di kota Makassar saja. Namun kini sudah masuk di pelosok-pelosok Sulsel," kata Kepala Biro Penanggulangan Narkotika Psitropika Zat Aditif dan HIV/AIDS Sulsel, Sri Endang Sukarsih dalam keterangan persnya di Warkop Daeng Anas, Jl Pelita Raya, Makassar, Kamis (24/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tahun-tahun sebelumnya, para penderita HIV/AIDS didominasi dari warga perkotaan di Makassar. Penularan virus mematikan ini, lanjut Sri, banyak disebabkan oleh prilaku seks bebas dan penggunaan narkotika di kalangan remaja.
"Banyaknya orang dari pelosok yang menjadi kaum urban di Makassar, selain menjadi pecandu Napza ada juga yang berprofesi sebagai PSK atau berprilaku seks bebas, penyakit yang dibawa dari kota itu kemudian mudah menyebar di kampungnya karena kurangnya kesadaran oleh penderitanya," ujar Sri.
Sri menambahkan, di sebuah perkampungan di perbatasan Kab Bone dan Kab Soppeng, ada tujuh penderita HIV/AIDS atau Orang dengan HIV/AIDS (ODHA) dari kalangan remaja yang diisolasi oleh keluarga dan lingkungannya. Bahkan lanjut Sri, ketujuh ODHA ini sering diperlakukan tidak manusiawi oleh keluarganya, misalnya melemparkan makanan karena takut tertular ketika bersentuhan fisik.
Untuk menghambat penyebaran virus HIV/AIDS di Sulsel, Sri mengungkap Biro NAPZA dan HIV AIDS Sulsel yang dipimpinnya tidak akan berhenti melakukan sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS di seluruh pelosok Sulsel dengan melibatkan agamawan, tokoh masyarakat, tokoh pemuda. Selain itu, Biro NAPZA dan HIV/AIDS Sulsel juga akan merekrut relawan-relawan dari kalangan pelajar dan mahasiswa untuk mencegah meluasnya HIV/AIDS.
(mna/fay)











































