Dipungli, Orangtua Calon Siswa SMP 6 Semarang Protes
Jumat, 16 Jul 2004 18:07 WIB
Semarang - Penerimaan Siswa Baru (PSB) di Semarang diwarnai protes dari orangtua siswa. Seperti terjadi di SMP 6. Beberapa orangtua calon siswa memprotes pungutan liar sebanyak Rp 5 - 9 juta untuk bisa diterima di sekolah tersebut.Aksi sekelompok orangtua calon siswa dilakukan seusai penerimaan murid jalur 'khusus' diumumkan. Mereka ditemui Kepala Sekolah SMP 6 Subagyo, Kepala Komite Sekolah Nidhom Azhari dan stafnya di ruangan Kepala Sekolah SMP 6 Semarang, Jl. Sultan Agung Semarang, Jum'at (16/07/2004).Dalam dialog, Kepala Sekolah Subagyo mengatakan SMP 6 memang membuka 3 jalur penerimaan siswa baru. Di antaranya, jalur reguler sebanyak 6 kelas, 2 kelas imersi, dan 1 kelas jalur 'khusus'. Kelas reguler diisi 240 siswa, imersi (44 siswa), dan jalur 'khusus' 30 siswa."Jalur khusus merupakan kuota resmi sesuai izin Diknas. Proses seleksinya yang daftar duluan, maka ia bisa masuk. Pada awalnya yang siap diterima berjumlah 42 orang, tapi karena kami hanya butuh 30 siswa, maka 12 calon siswa tidak kami terima," katanya.Kepala Komite Sekolah Nidhom Azhari menambahkan tiap siswa dikenakan sumbangan sebesar Rp 5 - 9 juta. Proses penentuan dananya dilakukan dengan jalan musyawarah. Oleh pihak sekolah, dana itu akan digunakan untuk membantu melengkapi prasarana sekolah."SMP 6 kan termasuk pilot project, jadi prasarananya harus lengkap," katanya.Pernyataan Subagyo dan Nidhom Azhari itu langsung dibantah oleh orangtua calon siswa. Mukhlis (42 th) mengatakan tidak benar kalau proses penerimaan siswa baru didasarkan pada siapa yang daftar lebih dulu."Sejak pengumuman penerimaan siswa reguler dan imersi tiga hari lalu, setiap hari saya selalu datang ke sini untuk menanyakan apa anak saya bisa diterima atau tidak. Ternyata, anak saya tetap tidak diterima. Kalau hanya membayar dana sebesar itu, saya pun bisa," katanya dengan nada jengkel.Hal senada juga diungkapkan Ade SM (37 th). Ia tidak paham betul proses penerimaan murid melalui jalur 'khusus'. "Saya dengar ada siswa titipan segala, melalui surat sakti dari pejabat. Kalau hanya satu sih tidak masalah. Tapi kalau banyak," tegasnya.Mendengar pernyataan Ade, Subagyo segera mengeluarkan surat yang berkop Pemkot Semarang. Menurutnya, surat bernomor 422.1/61/RHS berasal dari Setda Kota Semarang yang isinya meminta sekolah membantu penerimaan atlit sepatu roda bernama Ratri.Anehnya, Subagyo tak memperbolehkan surat itu dibuka orang lain. Bahkan orangtua calon siswa pun dilarang membacanya secara langsung. Ia tetap memegang surat itu sampai para orang tua dan wartawan 'diusir' dari ruangannya.Seusai dialog, Mukhlis mengatakan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Subagyo. "Teman saya yang anaknya diterima mengatakan bahwa ada beberapa siswa yang diterima dengan surat seperti itu. Tidak mungkin hanya satu itu," paparnya.Ke-12 orang tua yang anaknya tidak diterima itu mengaku tidak bisa berbuat banyak meski mereka merasa dirugikan. Mereka cukup puas dengan mendebat pihak sekolah.
(nrl/)











































