Pilih Golput, Warga Palembang Kembalikan Kartu Pemilih
Jumat, 16 Jul 2004 17:13 WIB
Palembang -
Entah siapa yang menggerakkannya, sejumlah warga Palembang mengumpulkan kartu pemilih. Rencananya, kartu-kartu pemilih itu akan dikembalikan ke KPU. Sebuah gerakan golput. Berdasarkan pemantauan detikcom dari beberapa perkampungan di kawasan Plaju, Sekojo, dan Pakjo, sejumlah warga mengumpulkan kartu pemilih yang diberikan kepada orang yang mereka percayai. "Kartu-kartu itu akan kami kembalikan ke KPU. Kami tidak mau memilih lagi dalam pilpres putaran kedua nanti. Kami mau golput," kata Eddy, warga Sentosa, Plaju, Palembang, Jumat (16/7/2004). Menurut Eddy, jika kartu itu tidak dikembalikan, dan hanya dengan cara merusak kertas suara atau tidak datang ke TPS, kemungkinan besar suara dapat dimanipulasi. "Tapi jika kartu pemilih kami kembalikan secara bersama-sama, kan ketahuan berapa banyak pemilih di kampung ini. Kalau hanya 50 orang, ya, kartu pemilihnya tinggal 50 bae," katanya. Hal yang sama dilakukan sejumlah warga di Pakjo dan Sekojo. Mungkin yang membedakan soal alasan golput. Kalau Eddy beralasan karena kinerja KPU telah memanipulasi suara selama pemilu ini, baik pemilu legislatif maupun presiden. "Dari pada dibohongi terus lebih baik golput," katanya. Sementara Firdaus, warga Sekojo, mengaku kecewa dengan kekalahan calonnya, Amien Rais. "Aku tuh hanya percaya dengan Amien Rais. Karena dia tampaknya gagal ke putaran kedua, ya, lebih golput. Aku tidak mungkin milih Mega atau SBY," katanya. Menghadapi gerakan golput ini, para pendukung SBY-Kalla di Palembang yang tampak kelimpungan. Misalnya beberapa pendukungnya disuruh masuk ke sejumlah kegiatan aktivis LSM, seniman, dan mahasiswa, untuk mempengaruhi agar jangan terbangun wacana golput. "Golput itu tidak demokratis dan fair," kata seorang wartawan yang menjadi timses SBY-Kalla kepada sejumlah aktivis NGO yang tengah melakukan diskusi mengenai gerakan golput. Sedangkan, timses Mega-Hasyim tenang-tenang saja. "Ah, biasa itu. Saya yakin kok teman-teman masih sayang dengan Ibu Mega. Mereka itu kan dulunya pendukung ibu Mega yang kecewa dengan kinerja PDIP. Tapi PDIP kan sudah berubah, mereka pasti dukung Ibu Mega," kata Sekretaris DPD PDIP Sumsel Kwatno.
(asy/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































