Senin (21/11) malam menjelang laga Indonesia melawan Malaysia dimulai, ribuan suportor yang terkonsentrasi di beberapa pintu stadion, merangsek masuk ke dalam stadion. Mereka menjebol pintu masuk stadion.
Aparat polisi yang berjaga di pintu-pintu tak mampu menahan suporter yang mengamuk. Padahal, aparat polisi yang diterjunkan saat itu mencapai 4.000 personel lebih. Polisi pun seolah membiarkan para suporter masuk setelah pintu jebol. Tidak ada upaya pencegahan dari aparat polisi saat itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pas masuk ke dalam stadion, saya terhimpit suporter lainnya. Saya kemudian merasa sesak dan lemas," kata Kenya (24), Senin (21/11/2011) malam.
Hal sama juga dialami oleh Ayu (24). Mahasiswi salah satu universitas di Banten ini juga pingsan setelah berdesakan dengan suporter lainnya.
"Karena belum makan juga, terus terdorong-dorong lalu mukanya pucat. Makanya saya tarik keluar saja. Tapi pas keluar dari kerumunan, Ayu pingsan," kata Arif, teman Ayu.
Detikcom mencatat, korban pingsan di Pintu VII terdapat 9 orang. Lima di antaranya perempuan dan 4 lainnya laki-laki. Belum lagi korban yang dirujuk ke RS TNI AL Mintohardjo, Jakarta Pusat tercatat sebanyak 10 orang.
Tak hanya korban pingsan, laga yang berakhir dengan kekalahan Indonesia ini semakin memilukan ketika menelan korban dua orang tewas. Dua korban tewas itu ditemukan di Pintu VIII Sektor 15. Keduanya tewas akibat terinjak-injak dan kehabisan nafas.
Kedua korban tewas yakni Reno Alpino (20), warga Cililitan, Jakarta Timur dan Aprilianto Eko Wicaksono (14), warga Tangerang. Keduanya dimasukkan ke dalam satu ambulance yang sama saat ditemukan telah tewas.
Helmi, kakak sepupu Reno mengatakan, tidak ada petugas polisi atau pun petugas medis yang berada di lokasi ketika Reno ditemukan telah pingsan. Helmi yang saat itu terpisah dengan Reno dan teman-temannya baru menemukan Reno setelah 1 jam lamanya. Helmi curiga ketika mendapat kabar ada korban pingsan ditemukan.
"Pas saya lihat, ternyata adik sepupu saya. Tapi ternyata adik saya sudah meninggal saat itu," kata Helmi.
Sedih bercampur amarah ketika yang ada dalam benak pikiran Helmi saat itu. Ia menilai panitia konyol. "Konyol banget! Seharusnya ini nggak perlu terjadi. Kita sudah pegang tiket, tapi yang nggak punya tiket memaksa masuk," kata Helmi.
Lebih disayangkan lagi proses evakuasi jenazah Reno dan Eko sangat lambat. Ambulance yang seharusnya membawa mereka ke RS tidak bisa digunakan karena kunci kontaknya hilang. Tim medis, baru mengevakuasi dua jenazah itu setelah 2,5 jam kemudian.
Perhelatan yang seharusnya menggembirakan ini di sisi lain menimbulkan duka bagi keluarga suporter. Banyak pihak yang menyayangkan jatuhnya korban saat itu. Lalu, salah siapakah ini? Sebaiknya, semua pihak terkait saling introspeksi.
(mei/gah)










































