Aksi dorong-dorongan dan sikut-sikutan para suporter yang mencoba masuk stadion menimbulkan banyak korban luka dan pingsan akibat sesak nafas. Tidak hanya itu, dua orang tewas dalam insiden tersebut.
Kepala Bidang Humas Polda Metro Jaya Kombes Baharudin Djafar mengaku kewalahan dalam mengantisipasi kericuhan suporter yang menjebol pintu tersebut. Ini lantaran jumlah polisi tidak sebanding dengan jumlah suporter yang ada.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baharudin mengatakan, animo masyarakat untuk menyaksikan timnas U-23 begitu besar. Sementara petugas yang tersebar di beberapa titik tidak mampu menahan dorongan suporter kala itu. Panitia penyelenggara yang berada di pintu-pintu juga tidak mampu menahan.
"Ada (panitia). Justru di pintu masuk itu mereka yang ngecek, kalau ada problem baru dilaporkan ke polisi," katanya.
Sementara itu, Baharudin mengatakan, pihaknya akan mengevaluasi pengamanan kemarin. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait untuk mengevaluasi insiden itu.
"Semua pihak akan mengevaluasi kembali, baik polisi, panitia dan elemen lainnya," kata dia.
Ribuan suporter mencoba menjebol pintu masuk stadion beberapa menit sebelum pertandingan dimulai. Dalam peristiwa itu, setidaknya 10 orang dilarikan ke rumah sakit, belasan lainnya diberi perawatan medis di lokasi dan dua orang dipastikan tewas. Para korban itu terinjak-injak suporter lainnya saat berebut masuk ke dalam stadion.
(mei/lrn)











































