Gamawan dan Djohermansyah dianggap mengkhianati hasil rapat panitia kerja RUUK DIY. Keduanya memasukkan kembali pasal-pasal pemilihan gubernur dan wakil gubernur DIY.
Aksi tersebut digelar di halaman DPRD DIY di Jl Malioboro, Yogyakarta, Selasa (22/11/2011) pukul 13.00 WIB. Aksi dimulai setelah mobil ambulans dengan sirine dibunyikan memasuki halaman gedung wakil rakyat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hendro anggota Sekber Keitimewaan dalam orasinya di atas mobil ambulans menyatakan pemerintahan SBY melalui Kemendagri telah berbohong dan mengkhianati hasil rapat panja DPR dengan Sultan di Bogor tanggal 29-30 September 2011 lalu. Hasil rapat RUUK tanggal 17 November 2011 Dirjen Otda Kemendagri, Djohemansyah Johan memasukkan kembali pasal-pasal baru yang bertentangan dengan hasil rapat sebelumnya.
Hendro mengatakan pasal-pasal baru itu antara lain pasal 9 tentang gubernur utama dan wakil gubernur utama. Pasal 17, 18 tentang pengisian jabatan gubernur dan wagub yang berisi persyaratan calon gubernur dan wagub dari kerabat dan masyarakat umum.
"Ini menunjukkan pemerintah tak punya niat baik terhadap warga Yogya," katanya.
Selanjutnya kata Hendro, pasal 19, 20, 21, 22, 23, dan 24 tentang pengaturan calon gubernur dan wagub sama seperti yang diatur dalam UU Pemda. Hal itu berarti DIY sama seperti daerah lain. Sedangkan pasal 26 tentang kewenangan pertanahan Kasultanan dan Pakualaman sebagai badan hukum.
"Karena itu kami melawan keras upaya pembohongan dan pengkhianatan yang dilakukan pemerintahan SBY," tegas Hendro.
Sementara itu Ketua Sekber Keistimewaan, Widihasto menegaskan pihaknya meminta warga Yogya untuk menumpas segala upaya adu domba warga dengan isu anti keistimewaan yang dilakukan segelintir pihak yang kecewa dalam berdemokrasi.
"Kami juga menuntut DPR untuk fokus dan segera menyelesaikan UUK sesuai hasil rapat panja dengan Sultan di Bogor tanggal 29 dan 30 September lalu," katanya.
Usai berorasi, massa kemudian membawa tiga buah poster, dua di antaranya bergambar Gamawan Fauzi dan Djohemansyah Johan untuk dibakar sebagai ungkapan kekecewaan. Saat aksi berlangsung, puluhan aparat kepolisian berpakaian preman dan berseragam berjaga-jaga di sekitar gedung dewan.
(bgs/fay)











































