Pemerintah Diminta Tak Sepelekan Kehadiran 2.500 Marinir AS di Darwin

Pemerintah Diminta Tak Sepelekan Kehadiran 2.500 Marinir AS di Darwin

- detikNews
Senin, 21 Nov 2011 17:16 WIB
Pemerintah Diminta Tak Sepelekan Kehadiran 2.500 Marinir AS di Darwin
Jakarta - Pemerintahan SBY diminta jangan menganggap enteng kehadiran 2.500 marinir AS di Darwin, Australia. Penempatan ribuan marinir itu bisa jadi terkait konstelasi politik di kawasan Asia Pasifik. Untuk Indonesia khususnya Papua.

"Pemerintahan SBY harus tetap kritis dan tidak meremehkan penempatan pasukan AS. Oleh karenanya pemerintah harus selalu waspada atas kebijakan AS itu. Utamanya bila melihat dinamika yang ada di Papua saat ini dan konsekuensinya di masa mendatang," kata pengamat hukum internasional, Hikmahanto Juwana dalam pernyataannya yang diterima detikcom, Senin (21/11/2011).

Hikmahanto pun menyayangkan pernyataan Juru Bicara Presiden Julian Pasha yang mengatakan bahwa keberadaan pasukan AS tersebut tidak terkait dengan Papua.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pernyataan tersebut terlalu dini dan kurang memperhatikan konstelasi kepentingan baik ekonomi dan politik AS di Indonesia," jelasnya.

Hikmahanto memberi contoh langkah AS yang dinilainya di luar dugaan. Secara ekonomi, misalnya, pembelian 230 pesawat Boeing oleh Lion Air sedemikian penting hingga disaksikan oleh Presiden Obama.

"Kehadiran Obama untuk menunjukkan bahwa ia berhasil membuka lapangan kerja bagi rakyat AS. Ini jelas merupakan kepentingan AS," terangnya.

Apalagi, lanjut Hikmahanto, kebijakan pemerintah AS kerap berubah-ubah bergantung pada partai mana yang memegang pemerintahan. Ketika Gerald Ford dari Partai Republik berkuasa, pemerintah AS seolah merestui Indonesia 'masuk' ke Timor Timur.

Namun ketika Partai Demokrat berkuasa justru Indonesia mendapat tekanan atas dasar penggunaan kekerasan dan pelanggaran HAM di Timor Timur. Demikian pula ketika AS dipimpin oleh Presiden Bush yang berasal dari Partai Republik, terduga pelaku teroris Umar Patek dikejar bahkan dihargai penangkapannya dengan uang bagi siapa pun yang berhasil menangkapnya.

Namun ketika Obama yang berasal dari Partai Demokrat berkuasa, justru enggan mengekstradisi Umar Patek ketika tertangkap oleh otoritas Pakistan.

"Kebijakan yang berubah-ubah, namun dapat dianalisa trennya dan harus menjadi acuan bagi pemerintahan SBY dalam menyikapi penempatan pasukan marinir AS," tutur Hikmahanto.

(ndr/vit)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini