Marinir Bebaskan 7 Rumah Korban Banjir Pondok Labu Rp 1 Juta/Meter

Marinir Bebaskan 7 Rumah Korban Banjir Pondok Labu Rp 1 Juta/Meter

- detikNews
Senin, 21 Nov 2011 13:27 WIB
Marinir Bebaskan 7 Rumah Korban Banjir Pondok Labu Rp 1 Juta/Meter
Jakarta - Sekitar 7 rumah warga Pondok Labu korban banjir di bantaran Kali Krukut sudah dibebaskan Marinir. Marinir membebaskan rumah mereka dengan penawaran Rp 1 juta per meter persegi.

"Pihak marinir melemparkan isu untuk pembebasan tanah dengan harga yang sangat rendah yaitu Rp 1 juta per meter. Ada petugas marinir sekitar 3-4 orang yang mendatangi 7 rumah secara door to door untuk membebaskan rumah. Mereka bilang 'Mau nggak Pak dibeli? Daripada dibeli Pemda dengan harga Rp 500 ribu lebih baik sama kita aja satu juta'," ujar Ketua RT 11/RW 3 Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan, Sugiyono.

Hal itu disampaikan Sugiyono dalam jumpa pers saat mengadukan masalah banjir di kantor Komnas HAM, Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (21/11/2011). Dalam jumpa pers itu warga Pondok Labu diterima komisioner Komnas, sub komisi mediasi Syafruddin Ngulma Simeulue dan komisioner komisioner sub pemantauan Kabul Supriyadie

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apa yang dikatakan Sugiyono yang juga Ketua Forum Warga Korban Banjir Pondok Labu itu dibenarkan oleh Sarino, salah satu warga yang rumahnya dibeli Marinir pada November 2011 ini.

"Sore-sore, saya lupa kapan waktunya, ada 4 orang datang ke rumah saya untuk mengukur rumah. Malam-malamnya langsung dibayar di lapangan tembak. Luas rumah saya 50 meter persegi. Jadi lebih kurang total yang dibayar Rp 50 juta. Ini Marinir datang tanpa sepengetahuan RT atau RW dalam waktu 2x24 jam harus kosong," tutur Sarino.

Sarino setuju melepas rumahnya pada Marinir karena sudah bermusyawarah dengan warga lain yang rumahnya juga dibeli. 7 Warga, menurut Sarino, sudah setuju atas harga yang ditawarkan Marinir itu. Selain itu, Sarino juga was-was akan kondisi rumahnya yang miring karena imbas pengerukan gorong-gorong oleh Pemda DKI Jakarta.

"Karena 7 rumah itu posisi rumahnya pas di pinggir Kali Krukut. Terus jarak rumah dengan sungai semakin dekat. Bawah rumah saya itu kena garuk buldozer untuk pembuatan gorong-gorong sedalam 2 meter, rumah saya jadinya miring. Saya mau tidur, mau ngapa-ngapain nggak tenang karena takut rumahnya miring. Makanya saya bersedia rumah saya dibebaskan," jelas Sarino.

Dirinya juga pernah didatangi orang misterius berpakaian hitam pada suatu malam. Orang misterius itu memberitahukan bahwa akan ada perebutan tanah antara marinir dan Pemprov DKI Jakarta.

"Oktober-November nanti akan terjadi perebutan lahan antara marinir dan Pemda. Terus langsung pergi dianya," tutur Sarino yang belum menemukan rumah kontrakan dan sementara menumpang di rumah kakaknya di Pondok Labu ini.


(nwk/vit)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini