"Tidak mudah bagi dia, karena secara tokoh, figurnya belum terlalu kuat. Apalagi ada tokoh lain, seperti Prabowo dan Megawati," ujar pengamat politik dari Charta Politica, Arya Fernandes dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (20/11/2011) malam.
Arya melihat tingkat elektabilitas Hatta belum sampai pada 10 persen. Dan menurutnya, hal ini membuat Hatta harus meningkatkan pengenalan dirinya kepada publik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Arya juga menilai, posisi PAN sebagai partai politik belum mampu untuk mengusung capres secara mutlak. Diperlukan koalisi dengan pihak lain jika ingin Hatta lolos sebagai salah satu kandidat capres 2014 mendatang.
"PAN harus membangun koalisi, karena perolehan suara di 2009 kan cuma dapat 6 persen," tuturnya.
Tapi, membangun koalisi untuk menuju RI 1 pada 2014 mendatang tidaklah mudah. Sebab, setiap partai politik sudah memiliki jagoan masing-masing untuk diusung sebagai capres.
Parpol besar seperti Golkar, PDIP, dan Demokrat telah mantap mengusung tokoh masing-masing. Ada blok Golkar dengan Aburizal Bakrie, blok PDIP dengan Megawati atau Puan Maharani, serta blok Demokrat dengan Anas Urbaningrum atau Ani Yudhoyono. Kondisi ini membuat PAN juga tidak mudah menjalin koalisi dengan parpol lain seperti PKS, PKB, PPP, Hanura, maupun Gerindra. Karena parpol tersebut cenderung berpikir pragmatis dan memilih berkoalisi dengan parpol besar dibanding dengan PAN.
"Diharapkan Hatta membangun koalisi alternatif, selain blok tadi. Nah di blok aternatif, ada Surya Paloh dengan NasDem dan juga Sri Mulyani," terang Arya.
Hatta masih memiliki banyak waktu untuk menjalin koalisi-koalisi tersebut. Terlebih jika memang Hatta sepakat dengan usulan DPW PAN agar dirinya mundur dari kabinet dan fokus pada pencapresan, hal ini semakin memberikan banyak waktu untuk fokus membangun partai.
(nvc/mok)










































