Pertama, soal transparansi. Masyarakat awam di Papua, kata Jamal, menuntut adanya transaparansi dari pemerintah pusat. Sebenarnya berapa banyak nilai sumber daya alam yang sudah diambil dari tanah Papua.
"Masyarakat awam di sana menganggap telah terjadi perampokan di tanah mereka. Maka dari itu mereka menuntut adanya transparansi pemerintah. Karena antara yang pemerintah berikan dengan apa yang pemrintah peroleh dari Papua, kata masyarakat di sana tidak sebanding," ujar anggota Komisi IX ini kepada Jurnalparlemen.com, Kamis (17/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua, faktor ekonomi. Jika selama sembilan tahun Papua mendapatkan dana otonomi khusus sebesar Rp 32 triliun, kemanakah dana sebesar itu didistribusikan dan dimanfaatkan untuk apa saja. Menurut Jamal, pejabat daerah hampir semuanya merupakan putra daerah Papua. Maka, seharusnya putra โputra daerah itu telah memahami pangkal persoalan di daerah mereka masing-masing.
"Daerah jangan menyalahkan pusat jika daerah tidak mampu menjalankan tugas dan kewajibannya dengan baik," katanya.
Jamal berpendapat, meski pendistribusian anggaran menjadi tanggung jawab daerah, pemerintah tetap mempunyai kewajiban untuk melakukan pengawasan terhadap penggunaannya. Apakah anggaran dapat dinikmati semua masyarakat Papua. "Itu kesalahan pemerintah, yang membiarkan dana Otsus menggelinding begitu saja tanpa adanya pengawasan," pungkas anggota Fraksi PAN ini.
(nwk/nwk)











































