"Pilihan penyelesaiannya hanya satu, yaitu melalui perundingan dan dialog," tegas Menlu Marty Natalegawa, Kamis (17/11/2011), di Nusa Dua Bali Convention Center, Nusa Dua, Bali.
Pernyataannya tersebut menjawab pertanyaan wartawan mengenai sikap ASEAN terhadap isu krisis Laut Cina Selatan yang melibatkan China dan Amerika. Di dalam gelaran East Asia Summit dan KTT ASEAN plus Three yang dibukan pada Jumat esok, pemimpin dari dua negara yang sedang bersitegang tersebut akan mengadakan pertemuan dengan para pemimpin ASEAN yang berkumpul di Nusa Dua, Bali.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menyinggung rencana AS menggelar pasukan tambahan di Australia yang diyakini sebagai persiapan menghadapi kekuatan militer China di Pasifik, menurutnya tidak perlu dilihat sebagai ancaman gangguan stabilitas politik dan keamanan di kawasan. Setidaknya diharapkan rencana yang akan AS ujudkan pada awal 2012 itu tidak mengganggu suasana aman di ASEAN.
"Bahwa ada kabar suatu negara melakukan penambahan pasukannya di kawasan, tidak perlu dilihat dapat menganggu suasana. Kecuali memang ada niatan untuk mengubah suasana itu," wanti Marty tanpa menyebut negara yang dia maksud.
Menyinggung adanya negara di kawasan Asia Timur dan anggota ASEAN yang terlibat di dalam krisis Laut Cina Selatan, menurutnya akan dibahas dalam ajang East Asia Summit. Sedang dipersiapkan norma yang mengikat negara-negara di Asia Timur dan Asia Tenggara untuk mengedepankan pendekatan damai di dalam setiap tahap penyelesaikan sengketa.
"Akan disepakati norma bahwa tidak ada penggunaan kekerasan di Asia Timur dan Asia Tenggara," ujar Marty.
(lh/mad)










































