Mengurai Penyebab Pesawat di Jeddah Delay

Laporan dari Arab Saudi

Mengurai Penyebab Pesawat di Jeddah Delay

- detikNews
Rabu, 16 Nov 2011 21:11 WIB
Mengurai Penyebab Pesawat di Jeddah Delay
Jeddah - Dari tahun ke tahun, penerbangan pulang jamaah haji asal Indonesia kerap ditandai delay atau keterlambatan. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, mulai dari kondisi di bandara sampai kedisiplinan jamaah.

Dari pantauan detikcom di bandara internasional King Abdulaziz, Jeddah, potensi keterlambatan itu sangat mudah diprediksi. Imbas paling nyata adalah delay satu penerbangan akan mempengaruhi penerbangan berikutnya.

Sampai berita ini diturunkan, Rabu (16/11/2011), sejauh ini Kloter (kelompok terbang) embarkasi Solo adalah yang paling buruk keterlambatannya. Di hari pertama pemulangan, Kloter 2 Solo bahkan sudah terlambat sampai delapan jam. Kloter 8 delay sembilan jam, jamaah Kloter 9 sampai diungsikan ke hotel transit karena keterlambatannya lebih dari 12 jam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Solo adalah embarkasi dengan kloter terbanyak yakni 90, dengan jumlah jamaah lebih dari 31 ribu. Ujungpandang menyusul di urutan kedua dengan 86 kloter.

Semakin sering terjadi delay, biasanya akan menimbulkan efek domino, karena pesawat dipakai bolak-balik. Contoh, jika pesawat dari Jeddah terlambat, otomatis jadwal kembalinya pun terlambat. Khusus untuk Solo, maskapai Garuda Indonesia menyiapkan empat pesawat plus satu untuk stand by.

Kondisi di bandara King Abdulaziz merupakan salah satu penyebab keterlambatan. Paling gampang adalah, selama musim haji lalu lintas penerbangan sangat sibuk, sedangkan airport di Jeddah hanya mengoperasikan satu terminal, yakni East Terminal. Baru tahun ini dibuka West Terminal, dan Garuda memperoleh privilege untuk menyewa gate khusus di situ, sehingga diharapkan bisa mengurangi masalah delay.

Sebelumnya, selama di East Terminal, dengan jadwal yang sangat padat dari seluruh penerbangan internasional, kerap terjadi penumpukan calon penumpang, karena jumlah gate tidak sebanding dengan frekuensi penerbangan dan jamaah.

Masalahnya, fasilitas di West Terminal pun masih minim. Terminal ini baru dioperasikan dan banyak kekurangan, seperti fasilitas toilet yang tidak memadai, ruang tunggu di plaza yang open air--hanya dinaungi tenda-tenda besar-- sehingga jamaah yang menunggu lama harus rela diterpa angin cukup kencang bercampur debu.

Jumlah gate yang tersedia juga hanya dua, satu untuk laki-laki, satu untuk perempuan. Meja imigrasi, dari delapan yang tersedia hanya empat yang dioperasikan. Alhasil, antrean calon penumpang untuk masuk gate sampai boarding lebih lama.

Kendala lain, calon penumpang masih harus diangkut bus dari waiting room menuju badan pesawat, yang jaraknya 1-2 kilometer. Masalahnya, otoritas bandara maksimal hanya bisa mengoperasikan empat unit bus dengan kapasitas masing-masing 50 orang, sehingga untuk mengangkut satu kloter bisa dua kali bolak-balik. Sudah sampai sini saja sudah terbayang berapa banyak waktu yang dibutuhkan satu kloter dari mulai masuk terminal sampai ke dalam pesawat.

Landasan juga sibuk, sehingga pesawat kerap membutuhkan waktu cukup lama untuk bisa parkir setelah landing, atau masuk antrean sebelum take-off.

"Boleh dibilang, hampir setiap jam kami komplain ke pihak airport. Tadinya kita cuma dikasih dua gate, dua desk imigrasi. Di hari pertama sempat mati listrik kali, jaringan komputer mati hingga dua jam. Juga fasilitas pengeras suara tidak jalan, sehingga kami harus melakukan pemanggilan ke jamaah secara manual, dengan alat sendiri," papar Kepala Dinas Urusan Haji dan Umroh PT Garuda Indonesia, Hady Syahrean.

Yang juga menjadi kendala adalah kinerja petugas bandara setempat, yang kerap lambat dan suka "semaunya sendiri", sehingga bisa juga memperlambat proses boarding.

Dari sisi penumpang, kedisiplinan adalah faktor besar yang sering menyebabkan keterlambatan. Masalah umum yang ditemui di lapangan adalah, jamaah membawa barang-barang yang tidak diperbolehkan, atau jumlahnya melebihi kapasitas.

Kasus yang paling sering terjadi adalah jamaah "menyelundupkan" air zamzam di koper bagasi atau tas tenteng. Benda-benda tajam seperti gunting, pisau cukur, gunting kuku dan sejenisnya masih sering dibawa pulang. Setiap mesin pendeteksi metal berbunyi, petugas bandara sering tidak mau tahu, dan penumpang harus membongkar tas-tasnya, dan itu berarti memakan waktu lagi, sedangkan jumlah jamaah dalam satu kloter bisa sampai 400-an orang.

Garuda menyebutkan, tingkat OTP (On Time Performance) kepulangan di tahun-tahun sebelumnya cuma sekitar 40 persen. Tahun ini, dengan adanya West Terminal, meskipun tetap ada beberapa kendala, mereka berharap ada perbaikan menjadi 60-70 persen.

Tahun ini Garuda mengangkut 113.361 jamaah haji asal Indonesia, yang dibagi ke dalam 299 kloter dari sembilan embarkasi. Pemulangan jamaah akan berlangsung sampai 10 Desember.


(a2s/irw)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads