"Rangkaian penembakan misterius di areal PT Freeport, beberapa jam lalu ada satu karyawan tewas di Mile 51 dan tidak diketahui siapa penembaknya," kata Koordinator KontraS Haris Azhar saat rapat dengar pendapat dengan Komisi I DPR, di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/11/2011).
Nama karyawan tersebut adalah Makasau. Menurut Haris, penembakan ini sudah terjadi lebih dari sepuluh kali selama karyawan PT Freeport melakukan mogok.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Haris menambahkan sejak dua bulan ini latar belakang kekerasan di Papua terjadi karena ada motif ekonomi yang mana situasinya lebih berpihak pada Freeport.
"22 ribu plus keluarga karyawam Freeport adalah WNI dan sampai detik ini saya yakin tidak ada pejabat yang membela kesejahteraan mereka. Semua perspektifnya investasi dan negosiasi," imbuhnya.
Menurut catatan KontraS sendiri, ada lebih 40 kasus yang dikategorikan kegiatan makar. Namun info tersebut simpang siur karena informasi dari kepolisian hanya ada 18 kasus kekerasan.
Selain itu KontraS menyampaikan informasi ada 8 warga Papua ditembak oleh Brimob di daerah Paniayai, Papua. Kedelapan orang tersebut merupakan warga yang sedang mendulang emas secara liar.
“Kemarin tanggal 13 November 2011, 8 orang lagi dibunuh oleh Brimob. Mereka pendulang emas,” kata Azhar.
Namun, Polda Papua membantah kabar penembakan terhadap 8 warga sipil pendulang emas di Kabupaten Paniai, Papua. Informasi tewasnya 8 pendulang itu bohong.
Menurut Kabid Humas Polda Papua, Kombes Wachyono, penembakan tersebut merupakan berita bohong yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
"Jadi saya tegaskan bahwa tidak ada penembakan dan pembunuhan warga sipil di Paniai. Itu berita bohong dan tidak betul. Saya sudah telpon Kapolres Paniai untuk mengecek di tiap-tiap rumah sakit tapi tidak ada 8 korban dimaksud," kata Wachyono saat dikonfirmasi wartawan.
(feb/rdf)











































