Warga NU Kultural Gerah Lihat Sepak Terjang Jam'iyah
Kamis, 15 Jul 2004 23:17 WIB
Tasikmalaya - Gerah! Itu yang mungkin dirasakan sejumlah kalangan di tubuh Nahdlatul Ulama (NU) melihat sepak terjang jam'iyah yang kini asyik berpolitik. Karena itu, pertemuan sejumlah mustasyar PBNU digagas dan kemudian digelar di Ponpes Cipasung Tasikmalaya pada Kamis (15/7/2004).Acep Zamzam Noor, putra bungsu KH Ilyas Ruhiat yang lebih dikenal sebagai seniman ini menuturkan kegerahan itu muncul di banyak kalangan. Acep yang mengaku merupakan generasi muda NU ini menuturkan, inisiatif untuk menggelar pertemuan mustasyar itu digagas dalam satu pertemuan pendahuluan pada 3 Juli 2004."Ketika disampaikan ke atas, termasuk kepada Apih (panggilan akrab dirinya kepada ayahandanya KH Ilyas Ruchiyat), ternyata mendapatkan sambutan baik," tuturnya.Acep memang termasuk yang paling geram, manakala lembaga NU dan pesantren diseret-seret ke arah politik. Protes keras dilancarkannya saat digelar satu acara istighotsah di Ponpes Cipasung yang dimotori sejumlah politisi PDIP dan pendukung capres Megawati-Hasyim Muzadi.Acara istighotsah yang dihadiri Menakertrans Jacob Nuwa Wea itu malah berujung kepada dukungan terhadap pencalonan pasangan itu. Pada saat acara itu digelar, KH Ilyas tengah terbaring sakit dan mendapatkan perawatan di RS Hasan Sadikin Bandung.Acep pun menuturkan, inisiatif pertemuan mustasyar itu selain karena tuntutan AD/ART NU, juga datang dari orang-orang NU kultural. "Orang-orang NU kultural sangat prihatin dan gelisah melihat perkembangan NU saat ini, dan terpanggil untuk menegakkan kembali Khittah NU yang dianggap telah terabaikan," tuturnya.Menurut Acep, majunya Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, membuat NU tak ubahnya partai politik. Pasalnya, ternyata hampir seluruh struktur yang ada di NU digiring untuk ikut meloloskannya. "Makanya mustasyar merasa perlu untuk segera menyelamatkan NU dari politik praktis ini," tegasnya lagi.Warga NU kultural ini menilai, jam'iyah semakin terseret ke dunia politik praktis. Padahal NU bukanlah partai politik. Meski demikian, Acep menolak jika pertemuan Cipasung ini dikaitkan dengan proses Pilpres yang tengah berjalan.Hal lain yang dinilainya penting dalam pertemuan itu adalah untuk menunjukkan keberadaan mustasyar. Selama ini dalam kegiatan yang berjalan, mustasyar seakan dianggap tidak terlalu penting. "Padahal mustasyar ini keberadaannya justru itu dilindungi AD/ART. Bahkan dalam salah satu pasal, mustasyar memiliki kewenangan untuk memberikan nasihat kepada Syuriah PBNU. Kewenangan itu yang dilakukan dengan melakukan pertemuan di Cipasung ini," paparnya lagi.Sementara KH Ilyas Ruchiyat menuturkan, dalam pertemuan itu hanya menghasilkan saran atau nasihat. "Soal dilaksanakan atau diperhatikan tidaknya saran dan nasihat itu, tergantung kepada PBNU sendiri. Kami hanya memberikan saran dan nasihat untuk menyelamatkan NU sesuai khittah," tuturnya kepada wartawan seusai pertemuan.Soal waktu pelaksanaan pertemuan itu yang baru dilakukan setelah Pilpres putaran pertama dilakukan, KH Ilyas menjelaskan, hal itu karena waktu dan kesempatannya memang baru ada sekarang. Selain itu, usulan yang meminta agar mustasyar segera melakukan pertemuan memang terus berdatangan."Dalam pertemuan ini tidak dibicarakan Pilpres maupun percepatan muktamar. Ini murni membicarakan penyelamatan NU," tegasnya lagi.
(sss/)











































