"Di TV ada rusa kehausan, masyarakat antusias memberi air, bahkan ada yang memberi air mineral. Ini adalah kepedulian yang harus ditanggapi dengan baik," ujar Boediono di Gedung II Kantor Wapres, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Rabu (16/11/2011).
Boediono mengimbau, agar kepedulian semacam ini harus terus dipupuk dan dijaga. Rasa peduli harus ditumbuhkan sejak masa kanak-kanak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dosa, suatu bangsa bila tidak mewariskan yang lebih baik. Generasi sekarang itu generasi menanam. Memetik buahnya nanti. Kalo sekarang sudah getol memetik nanti habis. Yang diwariksan pohon kering," kata professor dan guru besar ekonomi ini.
Dalam kesempatan ini, Boediono juga menyatakan ikut prihatin atas kian banyaknya badak yang nyaris punah di sejumlah negara, termasuk di Indonesia. Boediono meminta kepedulian untuk melestarikan harus ditingkatkan.
"Kalau saudara lihat tayangan termasuk CNN, itu memang populasi badak di negara lain, mau punah, di Afrika, Nepal termasuk di Indonesia. Badak Jawa dan Sumatera itu jumlahnya rawan. Terutama badak jawa 35 sampai 45 ekor," katanya.
Dari jumlah itu, lanjut Boediono, hanya 3 atau 4 betina produktif. Sebuah laporan menyebutkan Badak Jawa di Vietnam pada 2010 ditembak dan habis. "Di Serawak juga ada beberapa Badak Sumatera. Ini contoh populasi yang perlu perhatian," jelasnya.
"Kemarin saya terima pejabat IUCN yang concern ke Badak Jawa. Mereka mengusulkan Indonesia menggabungkan gerakan menyelamatkan badak di dunia," tambahnya.
(gun/lrn)











































