Menurut dr Subagyo, Kasi Kesehatan Misi Haji Indonesia di Madinah, pada fase I, kasus kesehatan yang menonjol adalah risiko tinggi (risti), penyakit bawaan dari Tanah Air. Sedangkan pada fase II, jamaah telah mendapatkan paparan kegiatan di Makkah, Armina, Makkah, dan berjumpa dengan jutaan jamah sedunia, sehingga mengalami gangguan pada pernafasan.
"Itu yang menjadi concern kita dalam pelayanan kesehatan," kata lulusan Universitas Unibraw ini dalam perbincangan di Balai Pengobatan Haji Indonesia (BPHI) Madinah, Selasa (15/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengantisipai hal itu, tim kesehatan di Madinah menyiapkan antibiotik secara penuh dan kegawat-daruratan terkait pernafasan.
"Jadi kewaspadaan pada fase II ini adalah terhadap infeksi, atau komplikasi dari risti dan infeksi," kata dr Subagyo.
Untuk mewaspadai ispa, jamaah disarankan mengenakan masker yang dibasahi dan banyak minum. "Bila merasa bibir kering, segera banyak minum, bagi yang tak memiliki kontradiksi dengan jantung," saran dr Subagyo.
Di fase II juga, disiapkan tim tanazul, yaitu tim yang mempersiapkan jamaah sakit dipulangkan secepatnya ke Indonesia untuk mendapatkan layanan kesehatan yang lebih baik. "Pemulangan ini dilakukan karena keterbatasan fasilitas dan waktu di sini," katanya.
Jamaah sakit bisa dipulangkan secepatnya selain karena alasan medis, juga harus layak terbang.
Hingga Selasa siang, terdata 4 pasien yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia Madinah. Mereka adalah Sujono (74), Bejo (74), Syukur Pasella (75) dan Nasirah B.Ali (52).
(nrl/van)











































