Otak-atik Koalisi di Bali (4)
Pilih Mega, Golkar Kerja Keras
Kamis, 15 Jul 2004 15:00 WIB
Denpasar - Bagai pepatah, sekali dayung dua pulau terlampaui. Itulah gambaran yang tepat untuk Partai Golkar dalam rancangan koalisi memasuki pilpres putaran kedua ini. Partai Golkar akan berusaha memetik dua keuntungan, satu dari duet SBY-Kalla dan satunya lagi dari Megawati-Hasyim.Jika menjatuhkan pilihan ke SBY-Kalla tampaknya DPD Partai Golkar Bali tidak akan menemui kendala. Namun, polemik akan muncul jika Ketua Umum Akbar Tandjung menjatuhkan pilihannya kepada Megawati-Hasyim. Maklum, di Bali, Partai Golkar dan PDIP sarat permusuhan.Ketua Tim Kampanye Wiranto-Wahid Provinsi Bali IGK Adi Putra mengatakan, akan memerlukan usaha keras untuk meyakinkan kadernya jika Akbar menjatuhkan pilihannya kepada Megawati."Bagaimana pengarahan pusat kita dengar dulu, apa alasannya ke sana (PDIP). Kalau sudah rapim, putusannya diserahkan ke sana, kita mesti memberikan penjelasan kepada kader," kata Adi Putra dalam perbincangannya dengan detikcom lewat telepon, Kamis (15/07/2004).Adi Putra masih menunggu rapat pimpinan (rapim) DPP Partai Golkar tentang keputusan koalisi. "Tunggu rapim dululah, ke mana arahnya. Partai sendiri sampai sekarang belum menentukan sikap," katanya.Wajib Ikuti InstruksiPartai Golkar tidak ingin membuang peluang dalam putaran kedua pilpres. Mengantisipasi terpecahnya aliran dukungan, mereka bakal mengikat sekuat tenaga para kader agar mengikuti instruksi partai. "Partai Golkar jangan menjadi organisasi yang liar. Kalau berbicara organisasi para kader mesti diikat," cetus Adi Putra.Adi Putra tampaknya sangat hati-hati melontarkan kemungkinan ke mana Partai Golkar akan berkoalisi. Begitu pun saat ditanya tentang sikapnya apakah akan memilih militer atau sipil."Itu semua terserah partai. Saya dan semua kader partai tidak mau berbicara atas nama individu," kelitnya diplomatis. Tampaknya lebih condong ke Jusuf Kalla, yang notabene kader Golkar? "Kita belum mau ke mana-mana," tandasnyaa.Sikap hati-hati tersebut tampaknya masuk akal. Maklum, Adi Putra belum mengakui kekalahan jagonya, yaitu duet Wiranto-Wahid. Pasalnya, menurut Adi Putra, meskipun di Bali telah 'divonis' kalah telak dari duet Megawati-Hasyim yang meraih 54,72 persen dan SBY-Kalla 32,08 persen, secara nasional jagonya masih memiliki peluang. Di Bali Wiranto-Wahid keteteran dengan 10,34 persen suara."Belum tentu kalah. Perang belum usai. Kalau sudah usai baru ditata ulang," demikian Adi Putra.
(nrl/)











































