LP3ES Bantah Lakukan Kebohongan Publik
Kamis, 15 Jul 2004 14:35 WIB
Jakarta - Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) membantah telah melakukan kebohongan publik dalam mempublikasikan hasil quick count (penghitungan cepat) Pemilu Presiden. "LP3ES tidak pernah melakukan kebohongan publik seperti yang ditudingkan beberapa pihak," kata Andi Agung Prihatna, peneliti LP3ES dalam jumpa pers di kantor LP3ES, Jl. S. Parman no 81, Slipi, Jakarta, Kamis (15/7/2004). Metode quick count yang dilakukan LP3ES dengan mengambil sample 2.500 Tempat Pemungutan Suara (TPS) dari 69 daerah pemilihan di Indonesia secara acak. Menurut Agung, selisih antara hasil quick count LP3ES dengan hasil KPU rata-rata hanya 0,15 persen. Sedangkan margin error yang digunakan plus minus 1,1 persen. "Memang waktu itu kami pernah diprotes karena sudah mengumumkan hasil dari sample 1.700 dan bukannya 2.500. Tapi kami berani melakukan ini karena sebagaian besar provinsi sudah melaporkan hasilnya dan data yang masuk sudah stabil . Jadi di sini tidak ada kebohongan publik," tandas Agung. LP3ES telah melakukan metode quick count sejak Pemilu tahun 1997. Saat itu hanya dilakukan di Jakarta. Kemudian dicoba lagi saat Pemilu 1999 di NTB. Hasil quict count dengan KPU selisihnya sangat kecil. Namun saat itu tak diumumkan karena situasi politik belum memungkinkan. Hasil quick count yang diumumkan sehari setelah Pemilu Presiden, 6 Juli selisihnya dengan hasil KPU rata-rata 0,15 persen. Untuk pasangan Wiranto dan Salahuddin Wahid, selisih 1,1 persen. LP3ES menyebut hasilnya 23,3 persen, sedang KPU 22,2 persen.Mega-Hasyim selisih 0,25 persen. LP3ES 26,0 persen. KPU 26,25 persen.Amien Rais-Siswono, 0,48 persen. LP3ES, 14,4 persen. KPU 14,88 persen.SBY-Jusuf Kalla, 0,4 persen. LP3ES 33,2 persen. KPU 33,6 persen. Hamzah Haz-Agum Gumelar, 0,03 persen. LP3ES 3,1 persen. KPU 3,07.
(iy/)











































