Dari informasi yang dikumpulkan detikcom, Kloter 4 Ujungpandang yang semestinya terbang Minggu (13/11/2011) malam pukul 19.30 waktu setempat, baru bisa berangkat Senin jam 04.10. Keterlambatan mencapai 8 jam 40 menit.
Penerbangan berikutnya, yaitu Kloter 8 Solo, dari yang semula dijadwalkan take-off pada 21.15, baru terbang pukul 06.03 waktu setempat. Sebagai efek domino, Kloter 9 Solo juga mengalami keterlambatan sampai delapan jam, dan dikabarkan baru lepas landas pukul 8 pagi ini waktu Jeddah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Untuk bisa take-off saja pesawat bisa antre panjang. Pesawat yang datang pun masih butuh waktu cukup lama untuk mendapatkan tempat parkir, karena traffic-nya masih padat," jelas Hady kepada wartawan di Jeddah, Senin (14/11/2011) siang.
Selain masalah traffic di airport, kendala lain adalah tidak maksimalnya fasilitas dari otoritas King Abdulaziz. Meja imigrasi hanya disediakan empat lajur (dua untuk laki-laki, dua untuk perempuan), sehingga antrean menjadi lebih lama.
Demikian pula armada bus yang mengangkat calon penumpang dari waiting room menuju badan pesawat. Meski sudah minta penambahkan menjadi delapan, pihak bandara baru bersedia memberikan empat unit bus dengan alasan menghindari kemacetan di landasan.
Sementara itu, selama delay jamaah hingga kini belum ada yang diungsikan ke hotel transit. Padahal, jika keterlambatan sampai melebihi enam jam, pihak Garuda sudah menyiapkan hotel transit. Namun, karena dikhawatirkan proses kepindahan dari bandara ke hotel transit lalu kembali lagi ke bandara memakan waktu yang cukup lama dan merepotkan, jamaah setuju bertahan di plaza terminal, walaupun tempatnya di areal terbuka, dan terpaan angin campur debu cukup kencang.
(a2s/ndr)











































