Koper-koper besar itu, yang akan masuk ke bagasi pesawat, sudah harus dikumpulkan para jamaah di hotel transit sekurang-kurangnya 30 jam dari jadwal penerbangan pulang (khusus yang di Mekkah), atau 48 jam dari yang transit di Madinah.
Koper-koper itu kemudian diangkut menuju gudang di Madinatul Hujaj, yang merupakan airport lama Jeddah di kawasan Mator Ghadim, Tahril, untuk kemudian diproses oleh petugas Garuda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk diketahui, bagasi setiap jamaah dibatasi beratnya maksimal 32 kilogram. Namun, dari keterangan yang didapat, rata-rata koper jamaah Indonesia bobotnya kurang dari angka tersebut, antara 28-30 kg.
Setelah beres, koper-koper itu dibawa dengan truk kontainer ke bandara King Abdulaziz dan akan langsung dimasukkan ke dalam bagasi pesawat, alias tidak lagi melewati security check di terminal. Bagasi diharuskan rampung dua jam sebelum pesawat take-off, dan akan terbang bersama jamaah kloter terkait.
Kemudian, di bandara embarkasi masing-masing jamaah mengambil koper-koper besarnya itu, plus lima liter air zamzam dalam jerigen yang juga telah disiapkan oleh Garuda.
"Kami bekerja dua shift, terdiri dari tiga regu, setiap shif 12 jam. Proses untuk satu kloter (300-400 koper) maksimal dua jam. Satu shift kami bisa mengerjakan 7-8 kloter," terang Eric.
Selain mengurus bagasi, di gudang kargo ini petugas Garuda juga menyiapkan boarding pass para jamaah, sehingga begitu tiba di bandara hanya tinggal antre masuk terminal. Juga jika ada mutasi penumpang, seumpama ada jamaah yang ingin pindah kloter karena ketersediaan seat, hal itu diurus di tempat ini.
Jika ada kerusakan koper yang dianggap merugikan oleh jamaah setelah menerimanya di bandara embarkasi masing-masing, mereka boleh mengajukan klaim kepada pihak Garuda.
(a2s/ndr)











































