Menag Surati Menteri Haji Soal Keluhan Transportasi dan Armina

Laporan dari Arab Saudi

Menag Surati Menteri Haji Soal Keluhan Transportasi dan Armina

- detikNews
Senin, 14 Nov 2011 03:17 WIB
 Menag Surati Menteri Haji Soal Keluhan Transportasi dan Armina
Madinah - Perjalanan Arafah-Muzdalifah-Mina adalah pengalaman tak terlupakan bagi jamaah haji. Waktu tunggu yang lama, macet yang menggila, harus turun di pinggir jalan karena bus mogok di tengah angin berdebu, adalah pemandangan kelam yang terjadi di tengah malam tanggal 9 hingga 10 Dzulhijjah (5-6 November). Buruknya transportasi ini mengundang pemerintah Indonesia untuk mengirim komplain kepada Kementerian Haji Arab Saudi selaku regulator.

Komplain itu dilakukan secara lisan kepada Wakil Menteri Haji Saudi oleh Menteri Agama Suryadharma Ali pada hari Rabu 9 November. Hari Kamis, komplain serupa ditujukan kepada Menteri Haji dalam bentuk surat.

"Ini sudah sangat serius, untuk perbaikan tahun depan," kata Sekjen Kemenag Bahrul Hayat usai memberikan pengarahan kepada perusahaan dan pengawas katering di kantor misi haji Indonesia daerah kerja Madinah, Minggu (13/11/2011).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pengangkutan jamaah di Armina menggunakan sistem taradudi (bolak-balik, mondar-mandir). Jumlah bus dibatasi untuk mengurangi beban jalan yang terbatas. Jadi bila satu kloter berisi 450 orang, biasanya mendapat 10 bus, sekarang hanya kebagian separo saja. Karena banyak bus yang mogok, akibatnya perjalanan terhambat. Satu bus diisi penumpang berlipat, jarak 7 km harus ditempuh 2,5 jam.

Akibat masalah ini, jamaah baru selesai diangkut dari Arafah ke Muzdalifah pukul 05.10 WAS dan dari Muzdalifah ke Mina pukul 10.15 WAS.

Menurut Bahrul, tidak hanya jamaah Indonesia saja yang jadi korban buruknya transportasi ini. Jamaah Thailand yang hanya 3.000 orang juga baru tiba di Mina di tengah hari. Jamaah Malaysia yang hanya 20 ribuan juga terlunta-lunta. "Mereka malah bingung kenapa jamaah Indonesia yang 210 ribu lebih relatif mulus," ujar Bahrul.

Selain transportasi, komplain kedua terkait pelayanan di Armina. Misalnya space tenda yang diisi jamaah asing dan nonkuota, lingkungan yang kurang bersih/higienis, dsb. Pelayanan haji di Armina dilakukan lewat lini: Kementerian Haji sebagai regulator - muassasah (korporasi) - maktab.

"Pemerintah telah memberikan catatan-catatan kepada muassasah, maktab dan naqobah (sebangsa Organda) tentang apa-apa yang kita alami," kata Bahrul.

Terhadap komplain secara lisan yang disampaikan Menteri Agama, Wakil Menteri Haji Saudi menerimanya sebagai saran perbaikan tahun depan. "Wakil Menteri Haji responsif, berterimakasih atas masukan kepada pemerintah Arab Saudi," demikian Bahrul Hayat. (Nurul)

(nrl/anw)


Berita Terkait