Luhut: Jujur dan Disiplin Sejak Muda

Laporan dari Berlin

Luhut: Jujur dan Disiplin Sejak Muda

- detikNews
Minggu, 13 Nov 2011 15:37 WIB
Luhut: Jujur dan Disiplin Sejak Muda
Berlin - Pemuda Indonesia harus berlaku jujur, disiplin dan berhati nurani. Indonesia yang sedang membangun memerlukan generasi muda tangguh, bisa membuat keputusan yang berdasar dan mempunyai semangat pantang menyerah.

Hal itu disampaikan Jenderal (Pur) Luhut B. Panjaitan pada peringatan Hari Sumpah Pemuda bersamaan dengan Hari Pahlawan di KBRI Berlin melalui Konselor Fungsi Penerangan, Sosial dan Budaya Ayodhia G.L. Kalake kepada detikcom, Sabtu (12/11/2011).

Memotivasi para pelajar dan kelompok masyarakat Indonesia di Jerman, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan dan Dubes RI di Singapura itu menceritakan perjalanan hidup, peran dan tantangan yang dihadapi di zamannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Untuk kekinian, dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 6-6,5%, para pemuda hendaknya dapat memanfaatkan kondisi Indonesia yang terus membaik tersebut," ujar Luhut.

Menurut Luhut, partisipasi langsung rakyat dalam pembangunan ekonomi diharapkan dapat mengurangi kesenjangan dan rasa ketidakpuasan, juga untuk membuktikan bahwa pembangunan dapat menyejahterakan rakyat.

"Pertumbuhan ekonomi harus diikuti dengan level pendidikan yang baik, serta perhatian terhadap masalah keamanan dan stabilitas politik," imbuh jenderal kelahiran Simargala, Toba Samosir itu.

Menjawab pertanyaan dari salah seorang peserta dalam acara tatap muka yang berlangsung pada 10/11/2011, Luhut mengakui memang masih terdapatberbagai masalah yang dihadapi pemerintah Indonesia.

"Masalah penegakan hukum, pemerataan, dan keamanan harus menjadi perhatian," demikian Luhut.

Sebelumnya Kuasa Usaha Ad-interim (KUAI) Diah W. Rubianto dalam sambutannya menyampaikan apresiasi tinggiatas partisipasi aktif para pelajar Indonesia dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh KBRI Berlin.

KUAI juga mengaku senang bahwa mereka dalam peringatan bernuansa kebangsaan masih mengambil peran antara lain sebagai pengibar bendera dalam perayaan HUT Kemerdekaan, Hari Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan.

"Hal ini menandakan rasa cinta pada bangsa tidak luntur, walaupun mereka jauh dari tanah air," papar KUAI.

Menghambat

Pada kesempatan sama, Mayrina Firdayati, mahasiswa program doktor pada Technische Universiteit Hamburg, Harburg, mengatakan bahwa angka partisipasi kasar pendidikan tinggi di Indonesia masih sangat rendah, yaitu di bawah 20%.

"Mahalnya biaya untuk menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi sangat memprihatinkan. Dengan kondisi tersebut, sulit diharapkan peran maksimal dari generasi muda Indonesia untuk ikut aktif membangun bangsa," cetus Mayrina.

Dosen pada Institut Teknologi Bandung (ITB) inisetuju bahwa kualitas dan pemerataan pendidikan harus ditingkatkan ke seluruh wilayah Indonesia.

"Agar sumber daya manusia Indonesia yang sebagian besar terdiri dari kaum muda dapat mengisi pembangunan dengan baik, selain juga dapat bersaing di tingkat global," pungkas Mayrina.
(es/es)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads