Di hari pertama kemarin (11/1/2011), hanya dua penerbangan awal yang relatif tidak terlalu ngaret jadwal keberangkatannya, yakni Kloter 1 Medan dan Kloter 1 Palembang. Namun, mulai penerbangan ketiga dan seterusnya terjadi delay.
Klote 1 Balikpapan, misalnya, dari yang semula dijadwalkan take off 13.15, tapi baru lepas landas dua jam kemudian. Dan seperti sudah diperkirakan, keterlambatan satu penerbangan akan memunculkan efek domino ke penerbangan-penerbangan berikutnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengenai keterlambatan ini, pihak Garuda mengeluhkan kesiapan bandara King Abdulaziz. Walaupun sudah memberi gate khusus di West Terminal, yang hanya melayani penerbangan Garuda selama musim haji, namun fasilitas yang ada tidak memadai.
Hanya dua pintu yang ada di Gate 22 tersebut, satu untuk laki-laki, satu untuk perempuan. Meja imigrasi pun hanya satu di setiap lajur. Alhasil, antrean memakan waktu lama. Padahal, setiap kloter bisa mengangkut sampai 400 orang.
Ruang tunggu di dalam terminal pun hanya satu. Akibatnya, jika jamaah dari satu kloter belum keluar untuk menaiki badan pesawat, kloter di belakangnya tidak bisa masuk karena tak ada ruangan lagi.
"Padahal ruang tunggu ini, tempat bagi para jamaah sebelum pemeriksaan x-ray barang bawaan," tutur Manager Senior Perencanaan dan Kebijakan Haji PT Garuda Indonesia, Sofyan Anwar, kepada wartawan di Jeddah, Sabtu (12/11).
Begitu pula dengan ruang tunggu jamaah di di plaza West Terminal. Calon penumpang harus menunggu dalam terpaan angin yang cukup kencang, karena ruang tunggu terbuka, hanya ditutupi tenda-tenda besar, tanpa mesin pendingin.
Tak heran jika debu-debu dari gurun di kawasan bandara mudah terhirup oleh penumpang, sehingga bisa memunculkan efek batuk-batuk. Kursi-kursi tunggu pun cepat ditempeli debu, dan petugas kebersihan bandara tidak sigap untuk melakukan pembersihan.
Belum lagi jika di siang hari, suhu yang cukup panas bisa membuat calon penumpang tidak nyaman. Padahal, satu hari akan ada 4.000 jamaah yang masuk bandara untuk secara bergiliran menunggu pesawat.
Pun demikian dengan mesin x-ray untuk mendeteksi barang bawaan calon penumpang, yang hanya ada satu unit. Ini jelas berpotensi memperlambat proses pemeriksaan, karena jika ada jamaah yang membawa benda-benda yang dilarang, mereka harus membongkar lagi tasnya. Alhasil ini memakan waktu karena menahan calon penumpang di belakangnya.
Yang juga minim fasilitas adalah bus yang mengangkat penumpang dari terminal ke badan pesawat, yang jaraknya sekitar dua kilometer. Pihak bandara King Abdulaziz hanya menyediakan empat unit bus berkapasitas 50 orang.
Untuk mengantisipasi keterlambatan yang semakin buruk, Garuda akan meminta penambahan tiga fasilitas dari otoritas bandara Jeddah. "Kami akan minta supaya gate ditambah menjadi tiga, runga tunggu tiga, dan bus jadi delapan," tukas Sofyan.
Hari Sabtu (12/11/2011) ini Garuda dijadwalkan menerbangkan tujuh pesawat ke Indonesia, yakni Kloter 3 Solo, Kloter 2 Medan, Kloter 2 Bandaaceh, Kloter 2 Padang, Kloter 2 Palembang, Kloter 4 Solo, dan Kloter 5 Solo.
(a2s/ken)










































