Bahkan, gaya berpolitik para politikus terkesan mahal (high cost) sehingga tidak bisa lepas dari kepentingan-kepentingan di belakangnya.
"Banyak politisi yang menjadi pion dari kepentingan lain," kata Din usai menggelar Milad ke 99 Muhamaddiyah, di kantor PP Muhamaddiyah Jl Menteng Raya, Jakarta Pusat, Jumat (11/11).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari situ akan membuka peluang sponsor-sponsor untuk masuk dan mendukung secara finansial, setelah itu mereka akan membalas jasa sponsor. Inilah yang rentan mengakibatkan korupsi," jelas Din.
Selain dari individu, Din melihat pola sistem politik yang terlalu liberal menjadi pemicu gaya berpolitik para politikus.
"Politik di Indonesia kurang efektif," ujarnya.
Sebelumnya Ketua Komisi Pemberatasan Korupsi (KPK) Busyro Muqoddas menyindir pejabat negara dan anggota dewan yang kerap kali bergaya perlente. Ia menilai lembaga negara dihuni pemberhala nafsu dan syahwat politik kekuasaan dengan moralitas rendah sehingga mengakibatkan berakarnya budaya korupsi.
Hal itu dikemukakan, Busyro Muqoddas pada pidato kebudayaan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2011 di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta, Kamis (10/11/2011) malam.
"Yang jelas mereka sangat perlente, mobil dinas Crown Royal Saloon yang jauh lebih mewah dari mobil perdana menteri negeri tetangga. Mereka lebih mencerminkan politisi yang pragmatis-hedonis," ucap Busyro dalam pidatonya.
(ahy/mad)











































