Menjelang hari Wukuf, dalam suasana hiruk-pikuk di daerah berdebu di sebuah bukit batu sekitar jam 5 subuh, tampak asap membumbung ke udara Arafah, dari jarak sekitar 50 meter dari tenda yang ditempati detikcom bersama rombongan Garuda Indonesia.
Begitu asal asap itu ditemukan, seorang laki-laki bertubuh gemuk berbaju ihram, dengan keringat berleleran dari tubuhnya, sedang memainkan kipas di atas bara api. Terus terang saya kaget, ada tukang sate "nyasar" sampai ke situ.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagaimana ceritanya bisa ada sate Madura di Arafah sesungguhnya tidak mengejutkan. Orang Madura, baik yang berstatus Tenaga kerja Indonesia (TKI) maupun yang sudah menetap di sana (disebut mukimin), cukup banyak di Arab Saudi. Dan di musim haji seperti ini, mereka juga memanfaatkan kesempatan untuk menambah penghasilan dengan berjualan, salah satunya apalagi kalau bukan makanan trade mark mereka: sate.
Ketika matahari mulai naik, saya beranjak menyambangi pemondokan resmi jamaah Indonesia di Arafah. Di depan maktab 20, beberapa orang tampak duduk meleseh, menikmati nasi pecel yang dijual seorang wanita paruh baya di tempat itu.
"Lagi tidak ingin sarapan katering, Mas. Lumayan nih, ada yang jual nasi pecel," cetus salah satu dari mereka, menunjuk sepiring makanan yang juga seharga 10 riyal itu.
Oya, selama haji, jamaah Indonesia disuguhi makan tiga kali sehari dengan menu makanan Indonesia, dengan sistem prasmanan. Perusahaan katering lokal juga merekrut koki asal Indonesia supaya cita rasa masakan cocok dengan lidah jamaah.
Selain di Arafah, sejumlah pejaja nasi pecel dan bakso juga bisa ditemukan di jalan-jalan di distrik Aziziyah di kota Mekkah. Dalam kepadatan yang luar biasa di tempat itu, mereka mendapatkan secuil ruang untuk menggelar dagangan kaki limanya.
Di daerah dekat Masjidil Haram, saya juga sempat mengunjungi sebuah warung bakso yang jalan Syeikh Amir. Seusai melakukan thawaf, saat perut mulai bersuara, dari kejauhan -- karena letaknya di atas bukit -- , terbaca cukup jelas tulisan "Restoran Bakso Priangan" di spanduk besar berwarna kuning.
Adalah Endin Sodikin (42), lelaki asal Malangbong, Garut, Jawa Barat, pemilik restoran sederhana itu. Ia sudah menetap di Arab sejak 1990, semenjak menjadi TKI di negeri petrodolar tersebut. Setelah bisa mandiri, ia pun mencoba berbisnis sendiri.
Untuk warung baksonya itu Endin menyewa sebuah kios yang tak terlalu besar di tempat itu seharga 10 ribu riyal selama 45 hari. Dibantu empat pekerja, total modal yang ia siapkan untuk usaha ini sekitar 40 ribu riyal. Tak cuma bakso yang seporsinya dijual 10 riyal, ia juga menyediakan makanan prasmanan ala Indonesia, seperti mie goreng, tempe, rendang, telur balado, dan lain-lain.
"Keuntungan tidak menentu, Mas. Hari pertama buka saya untung 5 ribu riyal. Di hari-hari berikutnya bisa juga untung sampai 12 ribu riyal," cerita Endin, yang saat itu sudah delapan hari berbisnis warung bakso
Pada kenyataannya, tidaklah sulit menemukan makanan Indonesia di negeri Timur Tengah ini, karena jumlah WNI di negara ini tergolong besar, diperkirakan sampai 1 juta orang. Banyak dari mereka berbisnis makanan ala Indonesia, kecil-kecilan maupun besar, permanen maupun temporer, seperti di musim haji, ketika ratusan ribu jamaah dari nusantara "menyerbu" Arab. Seperti pepatah bilang, ada gula ada semut.
(a2s/ndr)











































