"Kita pantas khawatir bahwa Komodo dijadikan komoditas bisnis oleh pihak asing yang hanya mencari keuntungan atas kekayaan hayati Indonesia. Bayangkan, sampai sekarang hak atas Komodo masih mereka klaim (The New 7 wonders), pemerintah sudah menarik diri dan membatalkan kontrak dengan NGO itu. Celakanya lagi, dia sibuk mencari keuntungan, kita malah ribut-ribut sesama kita di dalam negeri," ujar Ahmad Doli Kurnia dalam rilisnya kepada detikcom di Jakarta, Kamis (10/11/2011) malam.
Menurut catatan Doli Kurnia, sejumlah catatan terkait pro kontra yang terjadi setelah diketahui bahwa lembaga promotor 'The New 7 Wonders' adalah sebuah NGO yang tidak jelas keberadaannya. Lembaga yang kabarnya berpusat di Swiss dan cuma eksis dengan 'virtual office' nya, awalnya juga mengajak pemerintah Indonesia dan telah menandatangani kontrak mengikutkan Komodo sebagai kandidat competitor The New 7 Wonders.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada saat itu, menculah nama Emmy Hafild, yang kemudian mencari tokoh dan didapatlah Jusuf Kalla. Ditegaskannya, perlu diketahui Komodo sudah diakui UNESCO sebagai World Heritage atau kekayaan dunia.
"Jadi masyarakat kita tidak perlu mengeluarkan uang lagi via SMS untuk menyatakan bahwa Komodo itu diakui oleh masyarakat internasional," pungkas mantan Ketua Umum DPP KNPI ini.
(zal/her)










































