"Mustahil kami, pemkot, membiarkan. Kami pasti usahakan dengan solusi terbaik," kata Soemarmo ketika menemui sejumlah pasien gagal ginjal di Balaikota, Jalan Pemuda, Semarang, Kamis (10/11/2011).
Soemarmo mengatakan pasien miskin di Semarang kurang lebih ada 398 ribu orang. Semua juga membutuhkan pelayanan, sehingga pemkot harus adil. Pemkot tidak hanya menangani 61 pasien gagal ginjal yang ditangani berbagai RS di Semarang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dibanding daerah lain di Jateng, Semarang termasuk royal dalam menangani pasien gagal ginjal. Pemkot Salatiga misalnya, tidak menganggarkan. Kemudian, Demak, Kendal, Pemalang, hanya memberlakukan 2 kali cuci darah.
"Daerah-daerah lain seperti itu. Sementara di sini, kami memberikan 10 kali cuci darah," ungkapnya.
Meski jauh lebih baik dibanding daerah lain, mantan Sekda Kota Semarang ini menyatakan akan mengusahakan pasien gagal ginjal mendapat pelayanan lebih. Pemkot akan memerintahkan RS membebaskan pasien cuci darah sampai proses verifikasi pasien selesai. Setelah itu, pasien akan diberi alat sehingga tak perlu cuci darah di RS.
"Saya kira hanya itu yang bisa dilakukan. Kalau untuk membebaskan cuci darah selamanya, rasanya mustahil. Dimana-mana itu ada batasan. Banyak warga miskin yang juga membutuhkan pelayananan," paparnya.
Dialog pasien gagal ginjal dan walikota, tampak santai. Pasien miskin cukup puas dengan solusi tersebut. Sebabnya, mereka mendapatkan kepastian pelayanan yang akan didapatkan. Aspirasi pencabutan Perwal, dianggap tidak perlu.
Dalam Perwal No 28 Tahun 2009 disebutkan pasien Jamkesmaskot hanya dilayani untuk 10 kali cuci darah. Sisanya mereka harus membayar sendiri. Perwal itu, sebagaimana dinyatakan Soemarmo, jauh lebih baik dibanding daerah lain di Jateng.
(try/fay)











































