Kisah dari Depan Posko Mina

Laporan dari Arab Saudi

Kisah dari Depan Posko Mina

- detikNews
Rabu, 09 Nov 2011 18:52 WIB
Kisah dari Depan Posko Mina
Makkah - Haman Kadikan menebar senyum lebar lega. Usianya 78 tahun dan dia tersesat sejak pukul 16.00 WAS, baru ditemukan oleh petugas haji Indonesia 5 jam kemudian. Kedua kaki tuanya tak beralas. "Sandal saya lepas di sana," ujar kakek buta huruf ini menunjuk arah jembatan jamarat.

Selasa (8/11/2011) malam, Haman duduk sebentar di depan posko haji Indonesia di Mina. Posko ini selalu semarak. Selain ada "halo-halo" dari bagian penerangan, posko ini juga menerima laporan jamaah kesasar, dan juga menjadi pangkalan ojek 'bebek merah warnanya' yang berjumlah 9 unit. Ada juga mobil Coaster yang akan membawa jamaah tersesat bila jumlahnya banyak.

Haman tergabung di kloter 12 JKG dari Lampung. Di Mina, dia tinggal di Maktab 17. Dia terpisah dari rombongannya usai lempar jumroh di siang hari. Alas kakinya terlepas di tengah kerumuman dan hal yang berbahaya bisa nekat menunduk dan mengambilnya. Bisa-bisa diseruduk oleh jamaah bangsa lain yang badannya besar-besar dan jangkung-jangkung. Jadi, bertelanjang kaki demi keselamatan adalah pilihan terbaik. "Saya masih pening," ujarnya, masih dengan senyum lebar. Di tangannya terdapat plastik transparan berisi sejumlah bungkus roti dan sebotol air.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah didata oleh petugas di bawah payung di posko Mina, Haman yang selalu tersenyum lebar, diantar oleh petugas dengan Honda Cub 80, armada ojek andalan misi haji Madinah yang bertugas mengelola posko Mina. Abdul Azis, petugas haji yang menemukan Haman di tempat yang jauh, menceritakan, awalnya Haman enggan bilang kesasar. Tapi setelah ditanya, dia mengakui.

Karena kesasar di tempat jauh, Abdul Azis menawari menggendong Haman. Tapi Haman menolak keras. "Saya masih kuat, saya masih sehat, masak digendong. Anak saya 9!" ujar Haman seperti diceritakan Abdul Azis. Abdul Azis yang 'kocak' ini akhirnya membawa Haman ke posko Mina. Di perjalanan, dia meminta sejumlah orang berwajah Arab berfoto bersama dengan Haman dan semuanya menyambut dengan senyum lebar.

Tak lama kemudian datanglah petugas haji lainnya yang membawa jamaah yang juga uzur. Namanya Muhammad Hasyim. Kakek ini membawa tikar plastik yang dilipat seadanya plus selimut, dan seplastik besar ayam broast terkenal di Saudi, Al Baik, diperkirakan adalah sedekah jamaah lain. Sebagaimana Haman, anggota kloter 12 BTJ yang sederhana ini juga banyak mengumbar senyum lebar.

Tak dinyana, ternyata tangannya bengkak. Dia mengaku terjatuh. Segera saja petugas haji membawanya masuk ke Balai Pengobatan Haji Indonesia (PBHI), yang berada persis di belakang posko Mina. Setelah diobati, Kakek Hasyim diantar ojek ke Maktab 1 di Mina Jadid, 7 km dari jembatan jamarat.

Lantas datanglah seorang pria sepuh berbaju kaos putih dan celana putih. Giginya telah ompong. Bicaranya tak jelas. Empat orang yang bertemu dengannya tak ada yang mengerti apa yang diomongkannya sehingga dia dibawa ke posko Mina.

Petugas haji di posko juga kesulitan. Diduga dia orang Aceh, akhirnya diajak bicara dengan bahasa Aceh. Tidak nyambung juga. Petugas haji dari Medan yang mengajaknya bicara, yakin dia dari Aceh, tapi karena si kakek sudah ompong, tak ada yang 'mudeng' pada omongannya. Dia sulit dideteksi karena tak mengenakan gelang identitas.

Kakek itu berusaha nyelonong pergi berkali-kali, tapi ditahan oleh petugas haji karena khawatir akan tersesat dan tak kembali.

Ada lagi kakek yang kesasar, yang menolak keras diantar petugas haji ke posko Mina karena khawatir orang yang mengantarnya itu orang jahat. Setelah ditunjukkan jejeran bendera Indonesia di depan posko, kakek itu akhirnya percaya. Setelah didata dan mendapatkan pengobatan karena ada keluhan sakit, dia diantar ke maktabnya dengan 'bebek merah warnanya'.

Sementara itu, mobil Coaster yang bisa menampung 30-an orang telah penuh jamaah tersesat jalan. Sopir segera masuk bersama "kondektur" yang terdiri dari sejumlah petugas haji perempuan. Di setiap maktab yang menjadi perkemahan jamaah yang tersesat tersebut, mobil berhenti dan menurunkan penumpangnya. Jamaah sepuh diantar hingga masuk tendanya. Sejam kemudian, mobil Coaster telah kembali ke pangkalan di depan posko. Total jenderal, malam itu lebih 300 jamaah terdata kesasar.

Sementara itu, petugas penerangan yang bertugas menyambut kafilah haji Indonesia yang hendak berangkat melempar jumroh dan yang telah selesai, tak henti-hentinya 'berhalo-halo' dengan pengeras suara. Petugas mengingatkan rute yang harus ditempuh usai lempar jumroh agar bisa kembali ke Muasim, memberi doa agar menjadi haji mabrur, dan mengingatkan jamaah muda untuk tak jalan cepat-cepat dan membantu jamaah tua. Kepada jamaah yang telah pulang dari lempar jumroh, petugas memberi selamat, lambaian tangan, bahkan sering membagikan air mineral botolan plus nasi boks. "Halal, halal," begitu kata petugas.

Bisa jadi, di perkampungan Asia Tenggara tersebut, posko Indonesia di Mina inilah yang paling semarak, bersemangat dan ramai. Posko Malaysia di seberang jalan juga memakai "halo-halo", tapi tentunya kalah semarak dibanding Indonesia yang memiliki 200 ribuan jamaah. Malaysia hanya memiliki 20 ribuan jamaah.

Posko Mina yang 'heboh' ini juga menarik perhatian jamaah asing. Seorang pria besar berhidung mancung, meminjam mikrofon dan berbicara dalam bahasanya kepada teman-temannya. Lalu ada juga seorang ibu berwajah Bangladesh/India, yang membawa anaknya yang berusia TK dan menyuruhnya bicara di depan mikrofon. Anak itu lalu membaca Alfatihan dan surat An-Naas. Bocah itu mendapat hadiah tepuk tangan. Seorang bocah berkulit hitam juga tak mau kalah. Dengan beringsut-ingsut dia mendekati mikrofon lalu membaca surat pendek Alquran. Selain mendapat tepuk tangan, dia mendapat hadiah nasi box.

Begitulah sekelumit kisah dari Posko Mina pada Selasa malam itu. Sebelum magrib hari Rabu (9/11/2011) ini, posko itu telah tutup seiring berakhirnya prosesi lempar jumroh pada 11-12-13 Dzulhijjah (7-9 November). Petugas BPHI Mina telah ringkes-ringkes. Jamaah sakit dievakuasi ke BPHI Makkah. Selanjutnya prosesi haji berlanjut di Masjidil Haram untuk tawaf. Setelah itu, jamaah gelombang I bersiap-siap balik ke Indonesia, sedang gelombang II bersiap-siap ke Madinah. Sungguh kisah tak terlupakan di Posko Mina.

(nrl/vit)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads