Kisah di Balik Dinding SEA Games XXVI di Jakabaring

Kisah di Balik Dinding SEA Games XXVI di Jakabaring

- detikNews
Selasa, 08 Nov 2011 21:37 WIB
Kisah di Balik Dinding SEA Games XXVI di Jakabaring
Palembang - Jika menyebut kawasan Jakabaring di Seberang Ulu, Palembang, orang akan teringat akan beberapa peristiwa besar olahraga nasional dan international, seperti Pekan Olahraga Nasional (PON) XIV 2004, sejumlah pertandingan sepakbola yang menampilkan Sriwijaya FC maupun Timnas Indonesia, serta terakhir SEA Games XXVI.

Namun, ada kisah yang masih menyisakan luka buat sebagian warga Palembang. Kisah itu sebenarnya tercermin dari ratusan rumah panggung atau pondok yang berdiri di atas puluhan hektare tanah rawa-rawa, yang berada di sekitar perkantoran, Jakabaring Sport City, dan perumahan.

Nah, selama pelaksanaan SEA Games XXVI 11-22 November mendatang, ratusan pondok beserta rawa-rawanya ditutupi oleh pagar baleho SEA Games yang terpasang mulai dari pangkal Jembatan Ampera di Seberang Ulu hingga menuju Stadion Gelora Sriwijaya. Warga yang menetap di pondok itu hanya diberi celah atau pintu di pagar agar dapat keluar dari pemukiman mereka.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sekitar 15 tahun lalu, sebagian warga yang menghuni pondok itu harus berhadapan dengan aparat keamanan dan petugas dari pemerintah, saat mereka menolak lahan milik mereka dijadikan lahan reklamasi, sebuahproyek yang dilakukan Pemerintah Sumatera Selatan yang didukung Mbak Tutut.

Selanjutnya lokasi reklamasi itu dijadikan lokasi perumahan. Setelah mengalami proses yang panjang, akhirnya warga tak mampu menolak proyek tersebut. Mereka pun menyerah.

Lalu, menjelang dilaksanakannya PON XIV, persoalan tanah kembali muncul. Ini terkait dengan pembebasan lahan buat pembangunan venue PON. Persoalan yang muncul saat itu adalah soal klaim lahan warga oleh pemerintah. Pemerintah Sumatera Selatan mengklaim telah membebaskan lahan milik warga, tapi warga mengaku belum pernah diberi ganti rugi.

Menjelang SEA Games XXVI, persoalan itu menyeruak lagi. Kali ini terkait dengan lahan buat pembangunan Wisma Atlet. Sejumlah warga meminta agar pemerintah segera memberikan ganti rugi atas tanah mereka.

"Tanah milik aku ini juga mau diambil pemerintah. Kata mereka, tanah ini sudah diganti rugi, tapi itu tidak benar. Aku dan keluargaku belum pernah menerima ganti rugi," kata Habibullah, seorang warga di Jakabaring yang mengelola bisnis arang batok kelapa di atas lahan miliknya.

Sebagian warga pun cemas jika di masa mendatang akan ada proyek lainnya, sebab bukan tidak mungkin itu akan terkait dengan lahan mereka.

"Mudahan ke depan tidak ada lagi event seperti ini, event yang juga diikuti pembangunan, sebab takutnya tanah kami pula yang akan dipersoalkan," kata Marni, yang memanfaatkan event SEA Games XXVI buat berdagang t-shirt.

(tw/irw)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini