Kasus ini terjadi pada Minggu (6/11) malam. Saat itu Cheppy Muchlis tengah berkendara bersama istrinya Suci Wulandari di kawasan Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Di dalam mobil sedan itu ada juga ibu mertua, adik ipar, dan anaknya yang berusia 2 tahun.
"Saya pulang silaturahmim, habis Idul Adha," kata Cheppy, Selasa (8/11/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah senggolan terjadi, Simon meminta Cheppy untuk menepikan kendaraannya. "Saya dan istri saya keluar, kita meminta maaf dan mengecek ada apa, bagaimana kondisi mobil itu," jelas Cheppy yang juga bekerja di harian Kontan ini.
Ternyata, lanjut Cheppy, mobil Kijang Innova yang dikendarai Simon tidak mengalami lecet. Sebab mobil hanya bersenggolan saja. "Tapi rupanya Pak Simon meminta ganti rugi," terangnya.
Karena masing-masing bersikukuh pada pendiriannya, cekcok tidak terhindarkan. "Pak Simon memukul istri saya dua kali, dan sekali kena di dagunya. Itu memukul memakai senter. Istri saya terluka lecet," terang Cheppy.
Akhirnya, pengendara lain yang melintas dan melihat kejadian itu segera memisahkan. Cheppy yang melihat Simon memukul istrinya pun berupaya melakukan pembelaan, namun ditahan oleh pengendara lain.
"Akhirnya saya ajak istri saya pergi ke Polsek Duren Sawit melaporkan atas dugaan penganiayaan. Pengendara lain kemudian meminta STNK mobil Pak Simon dan diketahui itu mobil milik Wika Intrade," jelas Cheppy.
Suci yang mengalami luka pun diminta polisi untuk visum. Setelah itu Cheppy dan Suci resmi melaporkan Simon atas dugaan penganiayaan. "Istri saya masih shock karena dia kena pukul," terangnya. Laporan dilakukan pada Minggu malam itu juga.
Sementara itu Simon yang juga pegawai Wika Intrade saat dikonfirmasi membantah melakukan penganiayaan. Dia mengaku mobilnya diserempet Cheppy. Kemudian dia meminta agar keduanya menepi.
"Saat itu saya dikeroyok oleh keduanya sampai jatuh. Nah saat jatuh itu saya sembarang pukul membela diri, mungkin tidak sengaja mengenai ibu itu," terang Simon.
Pria paruh baya ini berharap, agar kasus tidak berlanjut ke ranah hukum. "Sebagai orang Indonesia ada baiknya kita menyelesaikan secara kekeluargaan. Kita berdamai," imbuh Simon.
Kapolsek Duren Sawit Kompol Titi Setyowati yang dikonfirmasi soal kasus ini belum bisa memberikan komentar. Saat dihubungi dia tidak mengangkat telepon selulernya.
(ndr/vit)










































