Ikrar: Golkar Lebih Untung Koalisi dengan PDIP
Kamis, 15 Jul 2004 06:38 WIB
Jakarta - Jika Partai Golkar berkoalisi dengan PDI Perjuangan dalam putaran kedua pemilihan presiden kali ini dinilai akan meningkatkan citra partai beringin tersebut. Pasalnya, stigma reformasi lebih tampak pada sosok Megawati Soekarnoputri dibandingkan dengan Susilo Bambang Yudoyono."Bagaimana pun kelemahan Megawati, tapi dia tetap satu-satunya calon yang merupakan bagian dari reformasi politik di Indonesia."Demikian ungkap pengamat politik dari LIPI Ikrar Nusa Bhakti dalam perbincangan dengan detikcom, Kamis (15/7/2004) pagi."Dan citra Golkar akan lebih baik karena akan dianggap sebagai partai yang mendukung pembentukan pemerintah yang pure sipil," tukasnya.Menurutnya, jika koalisi tersebut memenangkan pilpres kali ini maka pemerintahan ke depan akan relatif stabil. "Kabinet baru nanti tidak akan pelangi lagi. Dan reformasi politik akan tetap berlanjut," tandasnya.Dirinya memprediksi, tarik menarik opsi memilih PDIP atau Partai Demokrat akan berlangsung alot dalam tubuh Golkar. "Silang pendapat antar pengurus akan sengit karena ada yang memihak kepada SBY dan ada yang mendukung Megawati. Dan itu memang pilihan yang sulit bagi Golkar," ujarnya.Ditambahkan Ikrar, ideologi Partai Demokrat dengan PDIP memang memiliki kesamaan dengan Partai Golkar. "Mereka sama-sama berideologi nasionalis dan secara historis juga tidak jauh berbeda.""SBY dari sisi militer yang sudah lama dekat dengan Golkar. Sedangkan PDIP sudah menjalin hubungan yang baik selama 3 tahun terakhir ini," kata dia.Dosen UI ini berpendapat, koalisi apapun yang terbentuk dalam putaran kedua tidak akan berpengaruh secara langsung terhadap pemilih. "Pemilih kita sudah memiliki perhitungan politik sendiri. Tapi koalisi itu memang sedikit banyak akan tetap mempengaruhi pilihan masyarakat," kilahnya.Mengenai peluang capres yang akan unggul dalam putaran kedua ini, Ikrar mengaku, kedua pasangan sama-sama memiliki peluang yang sama. "Mereka sama-sama berpeluang. Tapi saya memperkirakan swing voters yang ada di Megawati akan lebih kecil dibandingkan dengan yang ada pada SBY.""Dan bila Mega dan PDIP bisa belajar dari kesalahan yang ada dan memperbaikinya dalam 2 bulan ini maka bukan tidak mungkin dia bisa unggul dari SBY," demikian Ikrar Nusa Bhakti.
(ton/)











































