Pelaksanaan Ujian SPMB Dibayangi Aksi Angkot Mogok
Kamis, 15 Jul 2004 03:25 WIB
Bandung - Pelaksanaan ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) di Bandung, Kamis (15/7/2004) dibayangi dengan adanya kabar angkot akan melakukan mogok. Untuk itu, panitia menghimbau agar peserta datang lebih pagi kendati pelaksanaan ujian dimulai pada pukul 11.00 WIB. Untuk diketahui setidaknya 8 trayek Angkot Kota Bandung melakukan mogok mengangkut penumpang, (14/7/2004). Trayek yang mogok yakni jurusan Margahayu Raya-Ledeng, Kebon Kalapa-Ledeng, Cisitu-Tegalega, Sederhana-Cipagalo, Cibaduyut-Karangsetra, Elang-Cicadas, Ciwastra-Cijerah, Gedebage-Stasiun Hall. Aksi yang sudah memasuki hari kedua tersebut diakui oleh Kepala Humas Pantap SPMB Lokal Bandung, Wina Erwina membuat pihaknya khawatir pelaksanaan ujian akan terganggu."Kami sudah menyurati pihak Organda, menghimbau mereka agar tidak mogok dulu. Bukannya kami tidak empati, tapi kasihan peserta SPMB mereka tidak akan diberikan waktu tambahan kalau terlambat." Penjelasan tersebut dikatakan Wina di Bandung, Rabu (14/7/2004) malam. Kendati terjadi aksi mogok, pelaksanaan ujian SPMB hari pertama yang berisimateri ujian Kemampuan Matematika Dasar dan Bahasa berjalan relatif lancar. Diakui Wina, peserta SPMB memang ada yang terlambat, tetapi rata-rata disebabkan kartu ujian yang tertinggal atau peserta kesulitan mencari lokasi ujian. Pada hari pertama, dari 32.486 total peserta ujian SPMB sejumlah 416 peserta yang tidak mengikuti ujian. Sopir dan pengusaha angkot kembali mengancam akan melakukan mogok masal dengan melibatkan seluruh angkutan kota yang menjalani trayek di seluruh Bandung. Adanya ancaman tersebut diakui oleh pihak pemerintah kota Bandung. "Ada isu mau mogok total. Bagaimanapun pelayanan pada masyarakat harus tetap diakomodir sehingga Pemkot membuat antisipasi bersama-sama dengan pihak Polri dan TNI untuk menyediakan kendaraan apabila terjadi pemogokan. Mudah-mudahan tidak ada," kata Kepala Dinas Informasi dan Komunikasi Pemerintah Kota Bandung Bulgan Alamin.Bulgan mengatakan, pihak pemerintah kota akan menyediakan 170 Bis Damri, 8 truk milik Polri dan kendaraan dinas di lingkungan Kota Bandung untuk mengantisipasi adanya pemogokan masal iniSPMB kali ini diikuti sebanyak 32.386 peserta. Jumlah peserta kali ini mengalami penurunan dibandingkan pelaksanaan SPMB tahun sebelumnya yang mencapai 38.697 peserta. Di Kota Bandung sendiri, kursi Perguruan Tinggi Negeri yakni sebanyak 9.300 kursi. Aksi mogok ini diduga disebabkan adanya kebijakan Rekayasa Jalan yang diujicobakan oleh Pemerintah Kota Bandung. Kebijakan ini ditempuh untuk mengatasi kemacetan di ruas-ruas jalan Kota Bandung. "Memang rasio jalan dan kendaraan tidak memadai mudah-mudahan dengan adanya rekayasa jalan ini kemacetan bisa dikurangi," kata Bulgan. Namun rekayasa jalan tersebut membawa dampak dengan adanya perubahan arah beberapa ruas jalan di Kota Bandung, seperti ruas Jl. Padjadjaran yang dibuat satu arah.Perubahan-perubahan ini yang diprotes oleh para supir dan pengusaha angkutan kota yang trayeknya ikut berubah.
(ton/)










































